Peta Koalisi Mulai Bergeser: Gerindra-PDIP Berpotensi CLBK di 2029, Faksi Solo Mulai Kehilangan Pengaruh?

WARTADEMOKRASI.COMPeta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi bahan pembicaraan sejumlah pengamat politik.

Salah satu kemungkinan yang muncul adalah terbukanya kembali kerja sama antara Partai Gerindra dan PDI Perjuangan (PDIP).

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai kekuatan politik yang selama ini dikaitkan dengan Joko Widodo atau “faksi Solo” tidak lagi sekuat ketika Jokowi masih menjabat sebagai Presiden.

Adi mengatakan kondisi tersebut membuat kelompok yang diasosiasikan dengan Solo perlu menghitung kembali strategi politiknya menghadapi kontestasi 2029.a

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari faksi Solo, kekuatan politiknya tak sekuat dulu saat ketika berkuasa. Justru faksi Solo harus berpikir keras, bahkan berpikir ulang, bagaimana caranya bisa lawan Gerindra 2029,” kata Adi, Selasa (15/9/2026).

Gerindra dan PDIP Disebut Berpeluang Kembali Bersama

Di tengah dinamika tersebut, Adi melihat kemungkinan Gerindra dan PDIP kembali membangun kerja sama politik pada Pilpres 2029.

Menurutnya, jika kedua partai tersebut nantinya berkoalisi, hal itu tidak harus dimaknai sebagai upaya menghadapi kelompok politik Solo.

Ia mengaitkannya dengan sejarah kerja sama kedua partai pada Pilpres 2009.

“Jikapun Gerindra dijodohkan berkoalisi dengan PDIP, bukan berarti untuk hadapi Solo, tapi karena CLBK (cinta lama bersemi kembali) seperti 2009 lalu, di mana Gerindra dan PDIP duet maju pilpres,” ujar Adi.

Pada Pilpres 2009, Prabowo Subianto berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.

Namun, kemungkinan koalisi Gerindra-PDIP pada 2029 saat ini belum menjadi keputusan resmi kedua partai.

Gerindra Belum Bahas Pilpres 2029

Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso mengatakan partainya saat ini belum membahas secara resmi agenda Pemilu 2029.

Menurut Sugiat, Gerindra masih berfokus mengawal berbagai program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Pak Prabowo itu kan mengatakan, di Hambalang, di Kartanegara bahwa fokus kita sebagai Partai Gerindra itu adalah bagaimana mensukseskan segala kebijakan program prioritas Pak Prabowo,” kata Sugiat.

Sugiat juga mengatakan belum ada pembahasan di tingkat pimpinan Gerindra mengenai kontestasi Pemilu 2029.

Pembahasan mengenai konfigurasi politik untuk pemilu mendatang disebut masih terlalu dini.

Meski demikian, dalam pernyataan lainnya, Sugiat menyebut Gerindra membuka peluang kerja sama dengan berbagai kekuatan politik pada 2029, termasuk dalam konteks perjuangan politik bersama.

Namun, ia menegaskan belum ada kalkulasi atau pembahasan resmi mengenai pasangan dan koalisi Pilpres.

Relasi Prabowo-Jokowi Juga Jadi Sorotan
Selain kemungkinan hubungan Gerindra dan PDIP, dinamika antara Prabowo dan Jokowi juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam membaca peta politik 2029.

Peneliti senior BRIN Lili Romli sebelumnya menilai hubungan politik keduanya dapat mengalami perubahan menjelang Pilpres 2029.

Lili menyoroti posisi Gibran Rakabuming Raka yang saat ini menjabat Wakil Presiden.

Menurutnya, jika kepentingan politik Jokowi terkait keberlanjutan posisi Gibran tidak terakomodasi, terdapat kemungkinan munculnya persaingan politik pada Pilpres 2029.

“Jika keinginan Jokowi agar tetap Gibran sebagai cawapresnya Prabowo tidak diakomodir, bisa jadi nanti keduanya akan bersaing dalam politik Pilpres,” ujar Lili Romli.

Pernyataan tersebut merupakan analisis mengenai kemungkinan dinamika politik, bukan konfirmasi bahwa Prabowo dan Jokowi akan berhadapan pada Pilpres 2029.

Koalisi 2029 Belum Terbentuk

Dengan demikian, kemungkinan Gerindra dan PDIP kembali berkoalisi pada Pilpres 2029 masih berada pada tahap wacana dan analisis politik.

Gerindra menyatakan belum membahas secara resmi kontestasi 2029 dan masih berfokus pada program pemerintahan Prabowo.

Sementara itu, analisis Adi Prayitno mengenai “CLBK” Gerindra-PDIP merujuk pada kemungkinan kembalinya kerja sama politik kedua partai seperti pada 2009.

Kamu mungkin suka