WARTADEMOKRASI.COM – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, membeberkan analisis menohok mengenai motif di balik manuver politik kelompok yang ia sebut sebagai “Geng Solo”.
Ia menilai ada desakan terstruktur dari kelompok tersebut yang berambisi mengambil alih kepemimpinan nasional sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 mendatang.
Pandangan tersebut disampaikan Said Didu melalui unggahan di media sosial resminya pada Sabtu (29/8/2026).
Dalam analisisnya, ia mengaitkan dinamika ini dengan peta hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta bayang-bayang pengaruh mantan Presiden Joko Widodo.
Said Didu merincikan setidaknya ada empat faktor utama yang melandasi dorongan kuat kelompok Solo ini untuk mengambil jalan pintas dalam konstelasi politik nasional.
“Penyebab Geng Solo kebelet ingin rebut kekuasaan sebelum 2029,” ungkap Said Didu mengawali analisisnya.
Poin pertama yang disorotinya adalah syahwat politik dan enggan melepaskan tampuk kepemimpinan.
Menurut Said Didu, mantan Presiden Jokowi pada dasarnya tidak pernah benar-benar rela melepaskan kendali kekuasaan dari trah atau dinastinya.
Faktor kedua berkaitan erat dengan kalkulasi politik menuju periode berikutnya.
Said Didu menilai hingga saat ini belum ada sinyal atau indikasi positif dari Presiden Prabowo Subianto untuk kembali menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029 mendatang.
Ketidakpastian posisi politik tersebut memicu kecemasan di internal “Geng Solo”.
Hal itu berlanjut pada poin ketiga, di mana kelompok ini mengalkulasikan bahwa peluang Gibran untuk bertarung di panggung kepemimpinan nasional akan semakin menipis dan berat jika harus menunggu hingga kontestasi resmi 2029.
Sementara poin keempat, Said Didu menyinggung soal pemanfaatan situasi nasional dan narasi ekonomi.
Kelompok tersebut dinilainya melihat adanya celah politik untuk mendelegitimasi pemerintahan Prabowo di tengah tantangan ekonomi dan dinamika kepuasan publik.
“Geng Solo melihat peluang menjatuhkan Prabowo karena dari hasil survei, rakyat makin tidak suka Prabowo dan kondisi ekonomi makin jelek,” tegas Said Didu.
Berangkat dari empat indikator tersebut, Said Didu menyimpulkan lahirnya sebuah dorongan nekat dan narasi pemaksaan momentum di lingkaran internal mereka untuk mempercepat pergantian kepemimpinan.
“Akhirnya keluar opini ‘kalau bukan sekarang – tidak akan mungkin lagi’,” pungkasnya.
Pernyataan bernada kritis yang disampaikan Said Didu ini murni merupakan pandangan dan analisis pribadi yang dilontarkan di ruang publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan atau respons resmi dari pihak-pihak yang terseret dalam analisis tersebut.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi seluas-luasnya bagi pihak-pihak terkait.