WARTADEMOKRASI.COM — Panggung politik tanah air kembali memanas! Budayawan kondang Mohamad Sobary melemparkan kritik tajam nan menohok mengenai hubungan dingin di pucuk pimpinan nasional.
Sobary menilai bahwa bagi Presiden Prabowo Subianto, sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tak lebih dari sekadar “symbol of nothing” alias simbol yang sama sekali tidak memiliki arti!
Isyarat keretakan ini kian kentara setelah publik menyoroti posisi duduk Gibran yang tak lagi berada tepat di samping Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026), melainkan digeser sejajar dengan para Menteri Koordinator.
Perubahan tata letak tempat duduk tersebut dinilai Sobary bukan sekadar formalitas, melainkan sinyal politik tingkat tinggi yang sengaja ditunjukkan sang Presiden.
“Bagi Presiden Prabowo wakilnya itu symbol of nothing ya. Nothing lah. Prabowo sudah mengginikan itu melalui simbol tidak boleh duduk dekat dia tadi,” ujar Sobary tajam dalam tayangan Forum Keadilan TV, dikutip Sabtu (25/7/2026).
Tak hanya itu, Sobary menilai ada bentuk penolakan yang jauh lebih keras, yaitu ketika Gibran sama sekali tidak dilibatkan dalam berbagai agenda blusukan Prabowo saat menyapa rakyat secara langsung.
“Tidak boleh ikut (ketika presiden bertemu rakyat) itu lebih keren lagi, lebih keras simbol penolakannya itu lebih keras, meskipun mungkin Prabowo juga tidak terlalu bermain simbol macam itu,” lanjutnya.
Secara blak-blakan, Sobary menyebut adanya insting politik bawah sadar dari Prabowo yang menganggap keberadaan Wapres muda tersebut justru mengganggu dan memperberat langkah kepemimpinannya.
“Six sense, common sense-nya Prabowo mengatakan ini bocah, cah cilik ini ngalang-ngalangi, ngeribeti. Ditaruh di belakang dia narik-narik, gondeli memberati, ditaruh di depan dia ngalang-ngalangi,” seloroh Sobary menggambarkan gestur politik Prabowo.
Menurut Sobary, pesan terselubung yang ingin disampaikan Prabowo sangat tegas: tidak ada keterkaitan antara tugas harian presiden dengan peran sang wakil.
“Jangan dekat-dekat sama gue. Gue enggak ada hubungan sama dia. Tugas-tugas gue harian itu enggak ada hubungan dengan tugas dia. Tugas gue, tugas gua. Enggak perlu ada dia. Ngapain? Kayak gitu bung kira-kira,” tandasnya.
Merespons gelombang spekulasi liar yang makin liar di masyarakat, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dengan cepat memberikan klarifikasi resmi untuk meredam suasana.
Prasetyo membantah keras isu perpecahan politik di tubuh kabinet dan menegaskan bahwa tata letak meja sidang murni diatur berdasarkan kebutuhan operasional di lapangan.
“Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan,” tegas Prasetyo menepis prasangka publik.
Meski Istana sudah berupaya meredam spekulasi, manuver tata ruang dan gestur politik di lingkaran utama pemerintahan ini dipastikan akan terus menjadi sorotan panas pengamat maupun publik secara luas!