WARTADEMOKRASI.COM – Aksi demonstrasi mahasiswa di IPB University pada Kamis (3/9/2026) diwarnai kemunculan dua replika makam bertuliskan “RIP Prabowo” dan “RIP Gibran”.
Simbol tersebut langsung menarik perhatian di tengah berlangsungnya aksi.
BEM KM IPB menjelaskan, replika makam itu tidak dimaksudkan sebagai ancaman terhadap Presiden Prabowo Subianto maupun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut mereka, simbol tersebut merupakan bentuk kritik mahasiswa terhadap kondisi pemerintahan.
Replika tersebut juga dimaknai sebagai gambaran “matinya harapan” mahasiswa terhadap penyelesaian berbagai persoalan, khususnya terkait isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan ketidakadilan yang dinilai masih menjadi perhatian publik.
AKSI #DEMO BEM IPB “RIP Prabowo & Gibran”
BEM KM IPB menyuarakan matinya harapan demokrasi lewat simbol kuburan “RIP Prabowo & Gibran”.
Mahasiswa menuntut penuntasan pelanggaran HAM, reforma agraria, dan keadilan lingkungan.
Kreatif banget!#ALLEYESONINDONESIA pic.twitter.com/WwX0IB1Pw6
— hot cocoa (@bismillahyuk_) September 4, 2026
Kemunculan dua replika makam menjadi salah satu bentuk ekspresi yang digunakan mahasiswa untuk menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi pemerintahan.
Kritik tidak hanya disampaikan melalui orasi dan tuntutan, tetapi juga dikemas dalam simbol visual yang mudah menarik perhatian.
BEM KM IPB menempatkan simbol tersebut sebagai representasi keresahan mahasiswa terhadap persoalan HAM dan keadilan.
Dengan menggunakan tulisan “RIP Prabowo” dan “RIP Gibran”, mahasiswa ingin menggambarkan berakhirnya harapan mereka terhadap penyelesaian persoalan yang menjadi tuntutan dalam aksi.
Meski demikian, penggunaan simbol makam dengan nama kepala negara dan wakilnya memicu beragam respons.
ya allah matikanlah segera Prabowo Subianto, hancurkan tubuh dan belulangnya dengan lahar dari gunung anak krakatao, merapi, ibu dan illi yang erupsi serentak pagi ini. bakarlah jasadnya hidup-hidup bersamaan dengan hutan yg terbakar di kalimantan. amin ya robbal alamin 🤲 https://t.co/QLT7lF3ZHg
— freac (@arddhe) September 6, 2026
Sebagian pihak melihatnya sebagai bentuk kritik politik, sementara kemunculannya juga menjadi sorotan karena menggunakan simbol yang cukup keras dalam menyampaikan pesan.
Aksi tersebut menunjukkan bagaimana mahasiswa menggunakan berbagai cara untuk menyampaikan aspirasi di ruang publik.
Replika makam akhirnya menjadi salah satu bagian yang paling mencolok dalam demonstrasi dan memicu pembahasan lebih luas mengenai batas ekspresi dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah.