WARTADEMOKRASI.COM – Sinyal riak politik nasional yang dipicu oleh wacana “percepatan” Pemilu 2029 terus memetik reaksi keras dari barisan pendukung Presiden Prabowo Subianto.
Tokoh nasional sekaligus pimpinan Gerakan Cinta Prabowo (GCP), Ahmad Haikal Hasan, menilai pernyataan Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, tidak bisa begitu saja dianggap sebagai lontaran spontan tanpa beban politik.
Haikal mendesak agar motif serta maksud tersembunyi di balik ucapan kontroversial tersebut diusut secara serius dan tuntas.
Ia menyoroti fakta bahwa lontaran isu sensitif itu terjadi dalam sebuah forum terstruktur yang menyerupai rapat resmi serta direspons secara langsung oleh para peserta yang hadir.
“Kalau sampai keluar ucapan seperti itu, itu berarti sesuatu yang sudah dipikirkan dan direncanakan dengan matang, bukan ucapan spontan yang ujuk-ujuk muncul begitu saja,” tegas Haikal.
Lebih lanjut, tokoh yang akrab disapa Babe Haikal ini menyayangkan sikap Budi Arie yang dinilai sama sekali tidak etis melontarkan narasi percepatan pergantian kepemimpinan.
Ia menyinggung fakta sejarah politik di mana Budi Arie justru mendapatkan akomodasi dan tempat dalam struktur kepemimpinan di bawah naungan pemerintahan Presiden Prabowo.
“Budi Arie sangat tidak pantas bicara seperti itu. Ingat, justru Budi Arie itu diselamatkan dan diberi amanah posisi oleh Pak Prabowo,” kritiknya tajam.
Meski enggan berspekulasi mengenai aktor intelektual di sekeliling lingkaran Projo, Haikal menegaskan bahwa dari sudut pandang hukum dan analisa politik, ucapan tersebut memuat indikasi niatan (mens rea) yang mengarah pada pengkondisian opini publik.
Sebab itu, klarifikasi belakangan dan permohonan maaf yang disampaikan Budi Arie usai rekaman videonya menjadi tular di media sosial dinilai belum cukup untuk menutup isu tersebut.
“Kalau ucapan itu sudah telanjur dilontarkan lalu dia minta maaf, terus apa maksudnya? Apakah artinya tidak ada rencana atau tidak ada gerakan lagi? Tidak bisa sesederhana itu,” kata Haikal.
Ia menggarisbawahi bahwa konsolidasi elemen pendukung Presiden Prabowo tidak akan tinggal diam membaca indikasi pergerakan yang berpotensi mereduksi stabilitas pemerintahan yang sah.
“Kita melihat ini sebagai sebuah ucapan yang sistematis dan bagian dari penggalangan gerakan. Jangan dikira kami akan diam saja. Jika memang ada gerakan yang berniat memaksakan percepatan Pemilu 2029, kami dipastikan tidak bakal tinggal diam,” tandas Haikal dengan nada memperingatkan.
Sebelumnya, ruang publik dihebohkan oleh beredarnya klip video berdurasi 1 menit 47 detik yang menampilkan Budi Arie tengah berpidato di hadapan peserta forum dengan didampingi Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Dalam rekaman tersebut, Budi Arie secara terbuka mengutarakan insting politiknya mengenai dinamika nasional yang dapat bergulir “lebih cepat dari Pemilu 2029”.
Ia bahkan menanyakan kesiapan para relawan jika opsi percepatan itu terjadi, yang disambut seruan “siap” dari massa.
Meski Budi Arie kemudian mengunggah video klarifikasi resmi untuk memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa terganggu, bola panas dari wacana pergeseran kekuasaan tersebut kini terus menggelinding dan memicu eskalasi di panggung politik nasional.