Geger Pengakuan Eks Waketum Projo: Jokowi ‘Dalang’ Skenario Lengserkan Prabowo Sebelum 2029!

WARTADEMOKRASI.COM – Gelombang ketegangan di internal lingkaran pendukung mantan Presiden Joko Widodo kian memuncak dan menajam.

Eks Wakil Ketua Umum Relawan Pro Jokowi (Projo), Budianto Tarigan, melontarkan kritik keras dan menohok terhadap ucapan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang belakangan memicu spekulasi politik mengenai masa depan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Budianto secara lugas menilai bahwa narasi kontroversial yang dilemparkan Budi Arie bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan cerminan dari artikulasi kepentingan politik mantan Presiden Jokowi.

Bahkan, ia menduga Jokowi justru menikmati berbagai dinamika dan kegaduhan politik yang ditimbulkan oleh mantan Menteri Koperasi tersebut.

“Saya percaya Mas Jokowi menikmati apa yang dikatakan Budi Arie yang menyebut kekuasaan Prabowo tidak sampai 2029. Jokowi dalang, benar ini. Pemain watak,” ujar Budianto Tarigan secara blak-blakan dalam tayangan di kanal YouTube Forum Keadilan Madilog, Sabtu (29/8/2026).

Menurut pandangannya, relasi politik antara Budi Arie dan mantan orang nomor satu di Indonesia itu tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Sebagai pucuk pimpinan Projo, Budi Arie dinilai tetap bertindak sebagai representasi utama Jokowi di ranah relawan politik, yang berupaya mengalihkan beban persoalan bangsa kepada kepemimpinan saat ini.

“Budi Arie itu kalau bicara, tetap dia representasi Jokowi dalam organ. Seakan-akan dosa ini dosa Prabowo sendiri. Padahal kondisi hari ini tidak terlepas dari 10 tahun pemerintahan Bapak Jokowi,” serunya.

Budianto lantas menarik benang merah menuju konstelasi politik pasca-Pilpres 2024.

Ia mengingatkan kembali pengakuan Budi Arie di masa lalu mengenai besarnya ketakutan kelompok politik Solo jika kekuasaan gagal dipertahankan dan diturunkan kepada penerusnya.

“Kalau Pak Jokowi tidak berhasil menjaga anaknya untuk tetap berkuasa, maka kalau 2024 kemarin kita tidak menang, kata Budi Arie kan ke penjara semua. Mau apa lagi? Itu yang membuat Pak Jokowi hari ini gelisah,” ungkap Budianto.

Lebih jauh, Budianto memperingatkan bahwa wacana perihal percepatan pergantian kepemimpinan nasional sebelum tahun 2029 merupakan ancaman nyata bagi stabilitas demokrasi nasional yang tidak boleh dianggap sepele.

Ia menduga telah terbentuk benih-benih atau embrio skenario politik yang mengarah pada perubahan kekuasaan secara premature.

Ia menilai ada pihak-pihak tertentu yang secara sengaja mengharapkan lahirnya benturan sosial dan huru-hara politik demi mengubah peta kekuasaan secara dramatis di tengah jalan.

“Percepatan pergantian kepemimpinan nasional sebelum 2029 itu sesuatu hal yang serius. Benih dan embrio mungkin sudah ada. Mereka berharap ketika ada huru-hara politik, nomor satu turun, nomor dua yang naik,” jelasnya.

Menanggapi konsolidasi dan pertemuan politik penting yang berlangsung pada 24 Agustus 2026 lalu, Budianto mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mampu membaca arah angin secara jernih dan mendalam.

Bagi Prabowo, variabel utamanya bukanlah gerak-gerik Budi Arie semata, melainkan manuver strategis di balik layar dari sosok Jokowi sendiri.

“Setelah kejadian itu, pertemuan 24 Agustus yang dibaca Pak Prabowo bukan Budi Arie, melainkan langkah Pak Jokowi,” tegas Budianto.

Di akhir analisisnya, Budianto mempertanyakan daya tahan dan masa depan politik “Dinasti Solo” jika konstelasi politik nasional berubah menjadi tidak menguntungkan bagi kelompok tersebut, terutama jika figur wapres yang ada dinilai tidak dapat diandalkan secara penuh.

Menurutnya, opsi terakhir bagi mantan Presiden Jokowi adalah bergantung pada jaminan keamanan politik dan perlindungan dari Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau misalnya nanti terjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi keluarga Solo, Gibran tidak bisa diharapkan, apa yang menjadi penjaga terakhir dari Dinasti Solo ini? Dia akan minta balas budi dari Prabowo. Mohon keluarga dijamin dan dijaga. Pertahanan terakhirnya bisa di situ,” pungkas Budianto.

Kamu mungkin suka