WARTADEMOKRASI.COM – Kabar terbaru mengenai kondisi mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, kian memprihatinkan.
Setelah diciduk militer Amerika Serikat (AS) dalam operasi kilat Januari lalu, tokoh sosialis ini dikabarkan mendekam di unit isolasi ketat sebuah penjara di Negeri Paman Sam.
Laporan eksklusif dari surat kabar Spanyol, ABC, Kamis (12/3/2026), mengungkapkan bahwa Maduro kini hidup dalam pengawasan super ketat.
Gerak-geriknya sangat dibatasi. Bayangkan saja, narapidana di unit ini hanya diberi waktu menghirup udara luar selama satu jam, itu pun hanya tiga kali dalam sepekan.
Prosedur keamanannya pun tak main-main. Setiap kali keluar sel, Maduro wajib mengenakan borgol dan dikawal ketat oleh dua penjaga bersenjata.
Sumber yang mengetahui masalah tersebut membeberkan sisi kelam di balik jeruji besi: pada malam hari, suasana penjara sering pecah oleh teriakan Maduro.
Dalam bahasa Spanyol, suksesor Hugo Chavez itu kerap berteriak dari dalam selnya, mengaku bahwa dirinya telah diculik dan mendapatkan perlakuan buruk dari otoritas penjara Amerika.
Sebuah pemandangan yang kontras bagi sosok yang dulu pernah memegang tongkat komando tertinggi di Caracas.
Kunjungan Konsuler dan Tuduhan Narkoterorisme
Meski dalam isolasi, Maduro dan istrinya, Cilia Flores –yang juga ditangkap dalam operasi yang sama– masih berupaya mencari keadilan.
Keduanya telah mengajukan permohonan kunjungan konsuler kepada perwakilan Venezuela.
Permohonan tersebut dikabulkan pengadilan, dan pertemuan dikabarkan telah berlangsung pada 30 Januari lalu.
Drama penangkapan Maduro ini bermula pada 3 Januari 2026. Saat itu, militer Amerika melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela.
Tanpa banyak kompromi, Maduro dan Flores diringkus dan langsung diterbangkan menuju New York untuk menghadapi meja hijau.
Presiden AS Donald Trump tidak main-main dalam kasus ini.
Ia menegaskan bahwa pasangan ini akan diadili atas tuduhan berat: terlibat dalam jaringan ‘narkoterorisme’.
Trump berdalih bahwa aktivitas Maduro selama ini telah menjadi ancaman nyata bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Kini, Maduro yang dulu lantang menentang ‘imperialisme’ AS, harus berjuang di jantung negara yang dianggapnya musuh, menunggu nasib dalam pengapnya sel isolasi New York.
Sumber: Inilah