“Don’t Shoot, I Am Muslim!” Detik-Detik Kamar Kapten Kapal Asal Gowa Diberondong Peluru Perompak Somalia

WARTADEMOKRASI.COM – Langit Laut Somalia tak lagi sekadar biru—ia berubah jadi medan ketegangan.

Dari geladak kapal tanker Honour 25, suara peluru dan teriakan menjadi latar bagi kisah hidup dan mati seorang pelaut asal Kabupaten Gowa, Ashari Samadikun.

Dalam rekaman video call yang beredar dari rekan seangkatannya di Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar, Ashari mengisahkan detik-detik kapal yang ia nahkodai diburu dan akhirnya disergap perompak Somalia pada 21 April 2026.

Awalnya hanya satu perahu mencurigakan dari kejauhan. Tiga mil. Mengamati. Diam. Lalu tiga jam kemudian, situasi berubah menjadi kepungan.

“Tiba-tiba tiga boat, dua di kanan, satu di kiri,” ucap Ashari dalam rekaman itu. Ketika ia mengangkat teropong, yang terlihat bukan lagi ancaman samar—melainkan senjata yang siap menyalak.

“Mati kita,” katanya lirih.

Beberapa saat setelah ia turun ke kamar, suara tembakan memecah ruang sempit itu. Peluru menghantam dinding, memaksa Ashari mengunci diri dalam ketakutan yang nyata.

Di luar, pintu-pintu didobrak, kru dikumpulkan, tangan diangkat. Tak ada ruang tawar.

Ketika seorang pimpinan perompak masuk dan menodongkan senjata ke kepalanya, Ashari memilih satu kalimat yang menjadi pembatas antara hidup dan mati.

“Assalamualaikum… I am Muslim, don’t shoot,” ucapnya.

Jawaban itu sempat meredakan situasi. Namun ketenangan tak pernah benar-benar datang. Ancaman terus berulang.

Senjata tetap mengarah. Perintah diberikan: hentikan kapal. Semua barang berharga dikumpulkan.

Di darat, kecemasan menjalar tanpa jeda. Siti Aminah (57) tak mampu menahan air mata di rumahnya di Pattallassang.

Dengan suara bergetar, ia memohon langsung kepada Prabowo Subianto agar menyelamatkan anaknya.

“Pak Presiden, tolong anak saya. Dia tulang punggung keluarga,” ucapnya, lirih namun penuh harap.

Istri korban, Santi Sanaya (26), menggambarkan situasi yang tak kalah mencekam.

Ia menerima voice note pada malam kejadian—lalu komunikasi terputus.

Saat akhirnya tersambung kembali melalui video call, kabar yang datang bukanlah kepastian, melainkan ketidakpastian.

“Situasinya berubah-ubah. Kadang aman, kadang terancam,” ujarnya.

Ancaman eksekusi bahkan sempat dilontarkan oleh perompak jika tebusan tak dibayar. Namun hingga kini, jumlah yang diminta belum diketahui.

Nasib 17 kru, termasuk empat warga Indonesia, masih menggantung di tengah laut yang tak mengenal belas kasihan.

Data manifest yang dihimpun oleh Eleora Kamaya Lekon menyebutkan komposisi kru lintas negara—Pakistan, Myanmar, Sri Lanka, India, dan Indonesia—yang kini berada dalam satu ketakutan yang sama.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka