Terungkap! Ini Isi Proposal Negosiasi Baru Iran Yang Bikin Trump Meradang

WARTADEMOKRASI.COM – Upaya Iran untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi dengan Amerika Serikat menghadapi tantangan serius.

Proposal terbaru yang diajukan dinilai belum menyentuh isu utama, sehingga memicu ketidakpuasan dari Presiden Donald Trump.

Namun, alih-alih meredakan ketegangan, isi proposal tersebut justru memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ketidaksepakatan atas poin-poin krusial membuat peluang negosiasi kembali tertunda, sementara konflik berpotensi berlanjut memasuki bulan ketiga.

Iran Ajukan Proposal Baru Lewat Jalur Diplomatik

Iran diketahui menyusun proposal baru yang disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator.

Langkah ini dilakukan setelah perundingan awal yang digelar pada Senin (11/4/2026) di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan.

Dalam upaya memperkuat dukungan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan rangkaian kunjungan intensif ke tiga negara dalam waktu 72 jam, yakni Pakistan, Oman, dan Rusia.

Kunjungan tersebut bertujuan menggalang dukungan regional terhadap proposal yang diajukan Teheran.

Pada Senin, Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di St Petersburg.

Sebelumnya, ia telah dua kali mengunjungi Islamabad dan sempat mengadakan pertemuan di Muscat, Oman.

Sumber diplomatik menyebutkan bahwa pejabat intelijen senior dari beberapa negara turut hadir dalam pembicaraan di Oman.

Fokus Proposal: Selat Hormuz dan Keamanan Regional

Melansir laporan Al Jazeera, balam proposal tersebut, Iran menitikberatkan pembahasan pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jaminan keamanan kawasan, serta kerangka penyelesaian konflik secara bertahap.

Diskusi di Muscat dilaporkan berfokus pada aspek strategis tersebut, sementara isu program nuklir Iran sengaja ditunda untuk dibahas pada tahap berikutnya.

Pendekatan ini dinilai sebagai strategi untuk menciptakan ruang dialog yang lebih fleksibel di tahap awal.

Langkah ini juga mencerminkan upaya Iran dalam menghindari kebuntuan sejak awal negosiasi, terutama terkait tuntutan Amerika Serikat yang menjadikan isu nuklir sebagai prioritas utama.

Tidak dimasukkannya isu nuklir dalam tahap awal proposal menjadi salah satu poin yang paling disorot.

Iran disebut ingin membahas persoalan tersebut di fase lanjutan setelah konflik mereda dan isu pelayaran di Teluk Persia terselesaikan.

Para analis menilai pendekatan ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, khususnya runtuhnya kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA.

Dalam perjanjian tersebut, Iran bersedia membatasi pengayaan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Namun, kesepakatan tersebut runtuh setelah Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian pada 2018.

Akibatnya, Iran kehilangan dukungan internasional dan tidak memiliki jaminan terhadap komitmen Washington.

Seorang analis bernama Khan menyebut negara-negara Eropa yang terlibat dalam JCPOA juga tidak mampu diandalkan saat krisis terjadi.

Ia menilai langkah Araghchi merupakan strategi untuk membangun perlindungan politik dan memperluas dukungan regional.

Sementara itu, mantan duta besar Pakistan Jauhar Saleem menilai Iran sedang menjalankan strategi jangka panjang.

Ia menyebut Teheran berupaya menghindari kesepakatan yang rentan terhadap dinamika politik domestik Amerika Serikat.

Reaksi Donald Trump terhadap Proposal Iran

Pada sisi lain, respons dari Washington menunjukkan sikap yang tegas. Presiden Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan isi proposal terbaru dari Iran.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut ketidakpuasan tersebut dipicu oleh tidak dibahasnya isu program nuklir dalam proposal awal.

Padahal, bagi Amerika Serikat, isu tersebut merupakan kepentingan utama dalam negosiasi.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa Iran telah mengetahui syarat yang harus dipenuhi.

“Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kalau tidak, tak ada alasan untuk bertemu,” ujar Trump.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melakukan negosiasi melalui media.

Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat hanya akan menerima kesepakatan yang mengutamakan kepentingan rakyatnya dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Isi Lengkap Proposal Iran

Berdasarkan informasi dari pejabat Iran yang berbicara secara anonim, proposal tersebut mengusulkan pendekatan bertahap dalam penyelesaian konflik.

Tahap pertama mencakup penghentian perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disertai jaminan bahwa konflik tidak akan kembali terjadi.

Selanjutnya, pembahasan akan difokuskan pada blokade Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap perdagangan laut Iran serta masa depan Selat Hormuz.

Dalam proposal tersebut, Iran tetap ingin mempertahankan kontrol atas jalur strategis tersebut.

Setelah itu, barulah isu lain akan dibahas, termasuk sengketa terkait program nuklir Iran. Dalam hal ini, Teheran tetap menuntut pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium.

Ketidaksepakatan antara kedua pihak membuat peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat semakin kecil.

Bahkan, rencana kunjungan utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad dilaporkan dibatalkan.

Situasi ini memperpanjang konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga memengaruhi pasokan energi global, meningkatkan inflasi, dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Dengan perbedaan mendasar terkait prioritas negosiasi, masa depan dialog antara Iran dan Amerika Serikat masih penuh ketidakpastian.

Proposal terbaru Iran menunjukkan upaya diplomatik dengan pendekatan bertahap, namun justru memicu ketegangan baru dengan Amerika Serikat.

Penundaan pembahasan isu nuklir menjadi titik krusial yang sulit diterima oleh Washington.

Jika kedua pihak tidak menemukan titik temu, konflik berpotensi berlanjut dan berdampak lebih luas.

Oleh karena itu, perkembangan langkah Iran dalam negosiasi ini akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah stabilitas kawasan dan global.

Sumber: BeritaSatu

Kamu mungkin suka