WARTADEMOKRASI.COM – Percakapan publik belum juga reda ketika sebuah forum tertutup digelar—sunyi, namun penuh gema.
Dalam kanal YouTube Hersubeno Point, wartawan senior Hersubeno Arief mencoba membaca yang tak terlihat dari pertemuan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dengan para purnawirawan dan elite tinggi TNI.
Secara resmi, forum itu terdengar normatif: memperkuat komunikasi, menyampaikan arah kebijakan pertahanan, hingga memaparkan progres pembangunan kekuatan militer.
Namun bagi Hersubeno, justru yang tak diucapkan itulah yang paling nyaring terdengar.
Pertemuan itu datang di tengah lanskap geopolitik yang bergerak cepat.
Dari rencana pengiriman personel ke Gaza, dinamika pasukan perdamaian di Lebanon, hingga isu sensitif seperti permintaan akses udara penuh oleh Amerika Serikat.
Semua menjadi latar yang membuat forum tersebut terasa lebih dari sekadar temu kangen para jenderal.
Nama-nama besar hadir. Dari Wiranto, Gatot Nurmantyo, hingga Andika Perkasa.
Mereka mewakili lintas generasi militer, seolah membentuk satu barisan panjang memori dan pengaruh.
Namun Hersubeno justru menyorot siapa yang tidak hadir.
Dua nama absen mencuri perhatian: Moeldoko dan Hadi Tjahjanto.
Keduanya dikenal dekat dengan lingkar kekuasaan sebelumnya, khususnya era Joko Widodo.
Ketidakhadiran ini, menurut Hersubeno, membuka ruang tafsir yang tak sederhana.
Apakah mereka tidak diundang? Atau diundang namun memilih absen?
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk pada pembacaan yang lebih politis.
Jika memang tidak diundang, Hersubeno melihat kemungkinan adanya konsolidasi baru di tubuh elite militer—sebuah poros yang mencoba membangun jarak dari apa yang ia sebut sebagai “lingkar Solo”.
Namun jika mereka diundang dan tidak hadir, maka tafsirnya bergeser: ada kehati-hatian, bahkan mungkin tarik ulur yang masih berlangsung di balik layar kekuasaan.
Di titik ini, forum tersebut berubah makna.
Ia bukan lagi sekadar ruang berbagi informasi strategis, melainkan arena simbolik—tempat posisi, loyalitas, dan arah politik dibaca tanpa perlu diumumkan.
Hersubeno juga menyinggung konteks yang lebih luas: kepemimpinan Prabowo Subianto yang mulai menata ulang lanskap pertahanan.
Dalam fase awal pemerintahan, langkah-langkah seperti ini bisa dibaca sebagai upaya merangkul sekaligus memetakan kekuatan lama.
Di balik bahasa resmi yang rapi, ada denyut politik yang tak bisa dihindari.
Sebab dalam dunia pertahanan, strategi bukan hanya soal senjata dan pasukan, tetapi juga tentang siapa berdiri di barisan mana.
Dan seperti disiratkan Hersubeno, kadang yang paling penting justru bukan apa yang dibicarakan—melainkan siapa yang duduk di ruangan, dan siapa yang tidak.
Sumber: Herald