WARTADEMOKRASI.COM – Riuh politik tak pernah benar-benar sunyi.
Dari ruang podcast hingga lorong ingatan para pelaku sejarah, cerita lama bisa kembali hidup—kadang lebih tajam dari sebelumnya.
Itulah yang terjadi ketika Panda Nababan, dalam sebuah diskusi di kanal Keadilan TV, membagikan pengalamannya mengawal dinamika awal pemerintahan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Panda bukan orang luar. Ia berada di lingkar dalam kemenangan Pilpres 2014, bahkan mengaku turut meracik strategi hingga pasangan itu resmi dilantik.
Namun di balik panggung kemenangan, ia menyebut ada bara yang sejak awal tak benar-benar padam.
Menurutnya, tanda-tanda ketegangan muncul hanya beberapa bulan setelah keduanya menjabat.
Salah satu momen yang paling ia sorot adalah ketika Presiden Jokowi melantik Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Kepala Staf Kepresidenan—tanpa sepengetahuan JK.
Dalam kesaksiannya, Panda mengutip pengakuan JK yang merasa tidak diberi informasi sama sekali soal keputusan strategis tersebut.
“Dia enggak tahu. Sama sekali enggak tahu,” ujar Panda menirukan cerita JK, menggambarkan situasi yang ia sebut sebagai titik awal renggangnya komunikasi di pucuk kekuasaan.
Bukan hanya satu kejadian. Panda menyebut pola itu berulang—keputusan penting negara kerap diambil tanpa melibatkan wakil presiden secara aktif.
Ia bahkan mengaku sempat diminta langsung oleh Jokowi untuk menjadi penengah, meredakan ketegangan yang mulai terasa di antara keduanya.
Di sisi lain, Panda juga mengungkap dinamika politik yang lebih luas: tarik-menarik kepentingan partai, resistensi terhadap figur tertentu, hingga konflik personal antar elite.
Nama-nama seperti Megawati Soekarnoputri dan Surya Paloh disebut dalam konteks perbedaan pandangan terhadap penunjukan pejabat strategis.
Meski demikian, Panda menegaskan bahwa hubungan Jokowi dan JK memang sejak awal tidak sepenuhnya solid.
Ia menyebut konflik di antara keduanya bukan fenomena baru, melainkan bagian dari dinamika panjang yang sempat ia bantu jembatani.
“Bukan hal baru. Dari awal memang sudah ada ketidaksesuaian,” katanya.
Kesaksian ini segera memantik perhatian publik.
Di tengah situasi politik yang terus bergerak, narasi dari orang dalam seperti Panda menjadi semacam potongan puzzle yang membuka kembali ruang tafsir: apakah retaknya relasi itu sekadar dinamika kekuasaan, atau justru fondasi yang sejak awal memang rapuh.
Yang jelas, cerita ini menegaskan satu hal—politik bukan hanya soal keputusan di meja rapat, tetapi juga tentang komunikasi, kepercayaan, dan ego yang berjalan beriringan di balik layar kekuasaan.
[FULL VIDEO]
Sumber: Herald