Relasi Politik JK-Jokowi: Drama ‘Tom & Jerry’ di Panggung Kekuasaan

Relasi Politik JK-Jokowi Drama ‘Tom & Jerry’ di Panggung Kekuasaan

Dalam panggung politik, tak ada kawan atau lawan yang abadi. Namun, hubungan antara Jusuf Kalla (JK) dan Joko Widodo (Jokowi) menawarkan anomali yang unik.

Dinamika keduanya tak ubahnya lakon kartun legendaris “Tom & Jerry”: penuh kejar-kejaran, sesekali bersitegang hebat, namun di saat lain bisa duduk satu meja demi kepentingan yang lebih besar.

Dalam dunia animasi, Tom sang kucing dan Jerry si tikus adalah representasi dari rivalitas yang abadi namun saling menggenapi. Penonton selalu terhibur melihat bagaimana mereka saling menjatuhkan dengan berbagai jebakan, tetapi di saat lain, mereka bisa bahu-membahu mengusir pengganggu dari luar rumah. Itulah potret JK dan Jokowi di panggung kekuasaan.

Bermula dari Promosi di “Kota Bengawan”

Kronik ini bermula lebih dari satu dekade silam. Saat itu, nama Joko Widodo hanyalah seorang Wali Kota Solo yang mulai mencuri perhatian nasional lewat mobil Esemka.

Adalah Jusuf Kalla, tokoh senior asal Bone yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Presiden SBY, yang melihat “sesuatu” pada diri Jokowi.

​JK adalah salah satu tokoh kunci yang mendorong dan mempromosikan Jokowi untuk berani keluar dari zona nyaman di Solo guna merebut kursi Gubernur DKI Jakarta pada 2012.

Lewat tangan dingin JK, jalan menuju DKI 1 terbuka lebar bagi Jokowi. Saat itu, hubungan keduanya adalah mentor dan anak didik yang harmonis.

Keraguan di Ambang RI 1: “Hancur Negeri Ini”

Namun, roda politik berputar cepat. Ketika nama Jokowi melejit dan digadang-gadang menjadi calon Presiden RI, JK sempat melontarkan pernyataan yang hingga kini masih membekas dalam ingatan publik.

Dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, JK sempat meragukan kapasitas Jokowi untuk memimpin level nasional.

​”Bisa hancur negeri ini kalau Jokowi jadi presiden,” ucap JK kala itu. Pernyataan ini menjadi titik awal narasi “perseteruan” mereka.

Tapi, layaknya Tom & Jerry yang tiba-tiba berdamai demi menghadapi musuh bersama, takdir justru menyatukan mereka dalam surat suara Pilpres 2014.

JK akhirnya mendampingi Jokowi sebagai Wakil Presiden, dan keduanya berhasil menakhodai Indonesia selama lima tahun (2014-2019).

2024-2026: Era Gibran, Bobby, dan Panasnya “Termul”

Memasuki tahun 2026, relasi ini mencapai titik didih baru. Jokowi kini telah bertransformasi menjadi mentor politik bagi keluarganya sendiri.

Putranya, Gibran Rakabuming Raka, kini menduduki kursi Wakil Presiden RI, sementara menantunya, Bobby Nasution, menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Di sisi lain, JK tetap pada perannya sebagai pengawas moral dan politik yang vokal.

Baru-baru ini, JK kembali “mengguncang” panggung lewat pernyataannya yang menyasar para loyalis garis keras Jokowi yang sering dijuluki sebagai “Termul” (Ternak Mulyono).

Dalam konferensi pers di kediamannya pada April 2026, JK dengan lugas menyindir mereka yang melupakan sejarah.

“Kasih tahu semua itu, termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Tanpa (saya bawa jadi) gubernur, mana bisa jadi presiden!” cetus JK. Kalimat ini adalah penegasan bahwa derajat politik Jokowi saat ini ada karena peran besar JK di masa lalu.

Polemik Ijazah dan Laporan Polisi

Tensi kian memanas ketika JK ikut angkat bicara soal polemik ijazah Jokowi yang sudah dua tahun menyita energi publik.

JK menyarankan agar Jokowi segera menunjukkan ijazah aslinya untuk menghentikan kegaduhan. JK meyakini ijazah itu asli, namun ia menyesalkan pembiaran konflik horizontal di masyarakat.

​Buntut dari sikap kritisnya, JK sempat dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh kelompok relawan atas dugaan penistaan agama terkait potongan video ceramah yang viral.

Namun, kubu JK menilai laporan tersebut tak lebih dari upaya pembungkaman atas sikap kritisnya terhadap pemerintah dan isu ijazah tersebut.​

Filosofi Rivalitas Abadi

Hingga detik ini, hubungan JK dan Jokowi tetap menjadi barometer tensi politik nasional. Meski JK kerap melancarkan kritik tajam, ia tetap memposisikan dirinya sebagai senior yang memberikan nasihat kepada juniornya.

Perseteruan mereka bukanlah permusuhan yang ingin mematikan, melainkan dialektika kekuasaan yang diperlukan agar demokrasi tetap bernapas.

Layaknya Tom & Jerry, meski piring-piring di rumah besar bernama Indonesia ini sering pecah karena perseteruan mereka, pada akhirnya publik sadar: panggung politik ini akan terasa sepi tanpa kehadiran kedua tokoh legenda tersebut.

Sumber: Inilah

Kamu mungkin suka