WARTADEMOKRASI.COM – Sebuah gelombang protes diplomatik yang tak terduga datang dari Asia Timur. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara mengejutkan mengunggah rekaman video yang memperlihatkan kekejaman tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap warga Palestina.
Unggahan ini tidak hanya viral, tetapi juga menciptakan ketegangan baru antara Seoul dan Tel Aviv.
Dalam unggahannya yang menggegerkan jagat maya, Presiden Lee Jae-myung tidak hanya membagikan visual yang menyayat hati, tetapi juga memberikan kritik filosofis dan historis yang sangat tajam.
Ia menarik garis lurus antara kekejaman yang terjadi hari ini dengan luka lama bangsa Korea.
“Pembunuhan di masa perang tidak ada bedanya dengan isu-isu yang kita persoalkan selama ini, seperti perbudakan paksa comfort women dan tragedi kemanusiaan Holocaust. Martabat manusia tidak boleh dikorbankan demi alasan militer apa pun.” — Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan.
Kalimat ini dianggap sebagai pukulan telak bagi Israel.
Menyamakan aksi militer IDF dengan Holocaust—peristiwa di mana jutaan orang Yahudi menjadi korban Nazi—adalah sebuah keberanian diplomatik yang sangat jarang dilakukan oleh pemimpin negara sahabat.
이게 사실인지, 사실이라면 어떤 조치가 있었는지 알아봐야겠습니다.
우리가 문제삼는 위안부 강제, 유태인 학살이나 전시 살해는 다를 바가 없습니다. https://t.co/owqj9Rg1lk
— 이재명 (@Jaemyung_Lee) April 9, 2026
Video tersebut merekam kejadian di kota Qabatiya, Tepi Barat.
Dalam rekaman tersebut, terlihat tentara Israel mendorong tubuh-tubuh pria dari atap gedung yang tinggi setelah sebuah baku tembak.
Meskipun pihak Israel berdalih bahwa itu adalah upaya untuk “menyingkirkan jenazah kombatan” agar tidak membahayakan pasukan, visual yang beredar menunjukkan tindakan yang dianggap dunia internasional sebagai penghinaan terhadap jenazah dan hukum perang humaniter.
Pihak Gedung Putih sendiri sebelumnya telah menyatakan bahwa rekaman tersebut “sangat mengganggu” dan menuntut penyelidikan internal dari pihak Israel.
Namun, respons keras dari Presiden Korsel inilah yang justru membawa isu ini ke level perdebatan moral yang lebih luas.
Kementerian Luar Negeri Israel segera bereaksi dengan nada tinggi.
Mereka menuduh Presiden Korea Selatan termakan oleh narasi “akun-akun propaganda” dan gagal memverifikasi fakta di lapangan.
Israel bersikeras bahwa apa yang terlihat dalam video telah dipelintir dari konteks operasi militer yang sah melawan sel teroris.
Namun, bagi publik Korea Selatan dan dunia, pesan yang disampaikan Presiden Lee telah sampai: bahwa tidak ada ruang bagi tindakan tidak manusiawi di era modern, terlepas dari siapa pelakunya.
Langkah Presiden Korea Selatan ini dianggap sebagai fenomena langka.
Biasanya, negara-negara maju di Asia cenderung menjaga jarak aman dari konflik Timur Tengah untuk mengamankan kerja sama ekonomi.
Keberanian Lee Jae-myung menempatkan isu hak asasi manusia di depan kepentingan politik praktis telah menjadikannya simbol baru bagi suara kemanusiaan global.
Sumber: Akurat