Eks Intelijen: Prabowo Siapkan Gibran-Teddy 2029!

WARTADEMOKRASI.COM – Riuh politik kembali menggema dari ruang-ruang diskusi publik.

Nama Prabowo Subianto diseret ke pusaran spekulasi, bersamaan dengan sosok Gibran Rakabuming Raka dan Teddy Indra Wijaya.

Dalam sebuah perbincangan di kanal Forum Keadilan, muncul tudingan tajam: kekuasaan hari ini bukan sekadar dijalankan, tetapi sedang diarahkan—bahkan disiapkan—menuju kontestasi 2029.

Suara itu datang dari mantan intelijen negara, Sri Radjasa Chandra, yang menyebut adanya gejala “dualisme loyalitas” di lingkar kekuasaan.

Ia menggambarkan situasi di mana peran Sekretaris Kabinet tak lagi sekadar administratif, melainkan menjelma sebagai “penjaga gerbang” yang menentukan siapa boleh mendekat, siapa harus menjauh dari presiden.

Dalam narasinya, kekuasaan tampak seperti mengalir melalui satu simpul yang kian dominan.

Di ruang-ruang istana, kata Sri, relasi kuasa mulai menyerupai pola lama: akses terbatas, komunikasi tersaring, dan keputusan yang dipengaruhi lingkar dalam.

Ia bahkan menyebut potensi “dua matahari” dalam satu orbit kekuasaan—sebuah metafora yang menggambarkan risiko munculnya pusat kendali alternatif di luar struktur formal negara.

Tudingan paling mengundang perhatian adalah dugaan skenario politik jangka panjang.

Sri menilai, jika kondisi ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin kekuasaan saat ini hanya berperan sebagai jembatan menuju 2029.

Dalam skenario itu, Gibran Rakabuming Raka disebut sebagai figur yang “diamankan” dari sorotan, sementara Teddy Indra Wijaya dinilai berpotensi disiapkan sebagai pendampingnya di masa depan.

Nada kritik juga mengarah pada dampak internal pemerintahan.

Peran yang terlalu dominan, menurut Sri, berisiko memicu retakan dari dalam—bukan karena tekanan oposisi, tetapi karena kekecewaan yang terakumulasi di antara para pembantu presiden sendiri.

Komunikasi yang tersendat, akses yang terhambat, hingga keputusan yang dianggap tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan menjadi potret yang ia lukiskan.

Namun, di tengah kerasnya kritik itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah semua ini berjalan di luar kendali presiden, atau justru bagian dari strategi yang disadari? Sri sendiri tidak memberikan jawaban pasti.

Ia hanya menegaskan bahwa jika tidak ada koreksi, maka risiko terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari dalam tubuh kekuasaan itu sendiri.

Pihak kepresidenan belum memberikan tanggapan resmi atas berbagai tudingan tersebut.

Sementara itu, publik dibiarkan menafsirkan sendiri: apakah ini sekadar dinamika politik biasa, atau pertanda bahwa arah kekuasaan Indonesia sedang ditulis jauh sebelum waktunya tiba.

[FULL VIDEO]

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka