WARTADEMOKRASI.COM – Baru-baru ini publik digegerkan dengan penemuan emas 74 kg di rumah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Emas tersebut diduga dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU) sejumlah korupsi yang melibatkan Febrie Adriansyah.
Harga emas yang ditimbun Febrie Adriansyah itu diprediksi bisa mencapai Rp196 miliar.
Emas tersebut berbentuk batangan per kg yang disimpan di dalam brankas rahasia.
Polisi kemudian memasukan emas ke dalam beberapa koper kecil untuk dibawa ke Markas Polda Metro Jaya sebagai barang bukti.
Pada salah satu koper berwarna hijau, terlihat secarik kertas bertuliskan “Koper 2: 25 batang emas 1 kg”.
Usut punya usut ternyata emas yang dimiliki Febrie jauh lebih besar dibanding emas yang dimiliki Tugu Monas.
Secara keseluruhan, Monas memiliki sekitar 72 kilogram emas murni.
Dari jumlah tersebut, sekitar 50 kilogram digunakan untuk melapisi lidah api di puncak monumen, sedangkan 22 kilogram lainnya menghiasi ornamen di Ruang Kemerdekaan.
Ruang Kemerdekaan merupakan salah satu bagian penting di dalam Monas.
Di tempat ini tersimpan salinan naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditempatkan dalam kotak kaca berhias bunga Wijaya Kusuma sebagai simbol kemerdekaan bangsa.
Lidah api yang berada di puncak Monas menjadi bagian paling ikonik dari monumen tersebut.
Ornamen ini dibuat dari bahan perunggu dengan berat sekitar 14,5 ton, kemudian dilapisi emas murni sehingga memancarkan warna keemasan yang menjadi ciri khas Monas.
Bentuk lidah api dipilih untuk melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tidak pernah padam dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Saat pertama kali dibangun, lapisan emas pada lidah api hanya sekitar 35 kilogram. Seiring waktu, jumlahnya terus ditambah hingga kini mencapai sekitar 50 kilogram.
Sebagian emas yang digunakan untuk melapisi Monas berasal dari tambang emas di Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara.
Daerah tersebut sejak lama dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil emas di Indonesia.
Emas dari Lebong Tandai kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pelapis salah satu simbol nasional Indonesia itu.
Selain berasal dari Bengkulu, emas murni di Puncak Monas juga berasal dari sumbangan seorang pengusaha kaya raya asal Aceh, Teuku Markam.
Ia dikenal sebagai penyumbang emas terbesar dalam pembangunan Monas dengan kontribusi sekitar 28 kilogram emas.