WARTADEMOKRASI.COM – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bersikeras untuk tetap melanjutkan operasi militer ke Lebanon.
Sikap keras ini tetap ditunjukkan meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah sepakat untuk berdamai.
Netanyahu menegaskan bahwa pasukan militer Israel tidak akan pernah mundur dari wilayah Lebanon sampai semua ancaman yang mengintai negaranya benar-benar sirna.
Menurutnya, perjuangan Israel untuk mengamankan negeri masih jauh dari kata berakhir.
“Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin,” ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip dari The Jerusalem Post, Selasa (16/6/2026).
Pernyataan tegas Netanyahu ini merujuk pada konflik di berbagai front yang terus pecah sejak Israel melancarkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina.
Konflik meluas ini mencakup pertempuran sengit antara Israel dan kelompok milisi Hizbullah di Lebanon, serta palagan pertempuran di Jalur Gaza dan Suriah.
Menurut Netanyahu, militer Israel saat ini telah berhasil memusnahkan nyaris semua elemen teror yang berpartisipasi dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 silam.
Namun demikian, ia percaya masih ada ‘satu lagi yang tersisa’ yang harus segera dibasmi demi menghilangkan ancaman di sekitar perbatasan Israel.
“Dia juga akan dilenyapkan. Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris berkemah di perbatasan kita,” tegas Netanyahu.
“Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama diperlukan,” imbuhnya.
Sikap keras kepala ini menjadi respons perdana dari Netanyahu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan historis dengan Iran.
Trump sebelumnya berujar bahwa kesepakatan tersebut mencakup perjanjian untuk mencabut blokade angkatan laut AS terhadap Iran.
Selain itu, PM Pakistan Shehbaz Sharif juga menyebut kesepakatan tersebut meliputi komitmen untuk menghentikan pertempuran di semua front, termasuk di Lebanon yang saat ini sedang dibombardir oleh militer Israel.
Meski demikian, sejumlah menteri di kabinet Israel secara terang-terangan menolak kesepakatan tersebut.
Pada Senin (15/6/2026), mereka menyatakan bahwa Israel sama sekali tidak terikat oleh perjanjian damai itu karena tidak dilibatkan dalam proses perundingan sejak awal.
Dalam pidato yang sama, Netanyahu sempat menyinggung soal kesepakatan yang tercapai antara Washington dan Teheran.
Ia berujar, Israel hanya ingin memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, ‘dengan atau tanpa adanya kesepakatan’.
Netanyahu pada kesempatan itu juga membela keputusannya yang sempat meluncurkan serangan udara langsung ke jantung pertahanan Iran.
Menurutnya, serangan agresif tersebut berhasil menghilangkan ancaman pemusnahan langsung yang membayangi masa depan Israel.
“Bersama dengan teman-teman Amerika, kita memulai misi serangan terbesar dalam sejarah Israel. Kita telah menggagalkan para ilmuwan nuklir, membunuh para pemimpin rezim teroris, menghancurkan pabrik-pabrik nuklir, menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik produsen rudal,” klaim Netanyahu.
Ia juga menambahkan skala kerusakan masif yang berhasil mereka timbulkan kepada musuh bebuyutannya tersebut.
“Kita telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Kita memperkirakan kerugiannya mencapai ratusan miliar dolar, dan beberapa memperkirakan bahkan mendekati satu triliun dolar. Ini kerusakan yang sangat besar bagi perekonomian Iran yang butuh waktu puluhan tahun untuk diperbaiki,” ucapnya.
Netanyahu kemudian menyinggung hubungannya dengan Donald Trump. Ia mengakui bahwa Trump tidak selalu ‘sepakat’ dengan setiap langkah politisnya.
Namun, ia menekankan bahwa kepentingan keamanan nasional Israel merupakan harga mati yang harus dipertahankan dengan bijak.
Di sisi lain, AS dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan damai pada Minggu (14/6/2026) setelah melalui berbagai putaran pembicaraan yang berlangsung sangat alot.
Nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tersebut rencananya akan diteken secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendatang.
Meski begitu, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai poin-poin menyeluruh dari isi kesepakatan.
Wakil Presiden AS JD Vance berjanji bahwa detail utuh dari MoU tersebut akan segera dirilis ke publik sebelum proses penandatanganan resmi dilakukan.
Sumber: Inilah