Memperkosa, Mencuri, Bunuh Anak-anak, Hancurkan Rumah Ibadah, Dubes Israel: Militer Kami Paling Bermoral di Dunia

WARTADEMOKRASI.COM – Jurnalis penyiaran terkemuka Amerika Serikat yang dikenal sebagai salah satu pembawa acara bersama (co-anchor) program berita malam PBS NewsHour, Geoff Bennett berbicara dengan Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon.

Mereka membahas tentang perang yang melibatkan Israel. Termasuk di Lebanon dan aksi militer Israel.

“Pertanyaan tentang aksi militer Israel. Saya ingin memutar video dari tanggal 8 April, ketika pasukan Israel menyerang lebih dari 150 lokasi secara bersamaan di seluruh Lebanon, menewaskan lebih dari 300 orang, dan melukai lebih dari 1.000 lainnya,” kata Geoff Bennett dikutip dari PBS.

“Ketika Israel menargetkan Hizbullah di daerah perkotaan padat penduduk, seperti yang terjadi di sini, bagaimana mereka menentukan tingkat korban sipil yang dianggap dapat diterima?” tanyanya.

Danny Danon menjawab dengan menegaskan bahwa mereka mencoba meminimalkan korban sipil.

“Tidak seperti Hizbullah, yang melakukan hal yang justru sebaliknya. Mereka menargetkan komunitas. Kami sebenarnya telah memberi tahu banyak komunitas untuk mengevakuasi Lebanon Selatan, dan banyak orang telah meninggalkan Lebanon Selatan,” jawabnya.

“Dan kami menyambut baik hal itu, karena memungkinkan kami untuk menyerang Hizbullah tanpa mempertaruhkan nyawa warga sipil, dan kami akan terus melakukan yang terbaik untuk meminimalkan korban sipil. Tetapi kami juga harus mengakui, Geoff, bahwa Hizbullah bersembunyi di balik warga sipil,” lanjutnya.

Ia menuduh Hizbullah bersembunyi di balik fasilitas PBB.

“Mereka meluncurkan roket dari tempat-tempat itu, dan kami berhak untuk membela diri. Jadi kami akan terus melakukan itu. Kami akan terus memerangi organisasi teroris. Kami juga melihatnya di Gaza di masa lalu dengan Hamas. Mereka mencoba menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, tetapi kami akan melakukan yang terbaik untuk meminimalkan korban sipil,” jelasnya.

Geoff Bennett mengatakan bahwa terkait poin penjelasan itu mereka tahu bahwa Hizbullah memang membaur di daerah-daerah sipil.

“Jadi, berapa banyak kematian warga sipil per target Hizbullah yang dapat diterima? Apakah lima? Apakah 10? Apakah 300? Atau tidak ada batasan sama sekali?” tanyanya.

Danny Danon menolak membahas angka.

“Baiklah, tanpa membahas angka-angkanya, tetapi saya akan memberi tahu Anda bahwa, sebelum setiap serangan, kami memiliki tim hukum yang benar-benar meneliti intelijen yang kami miliki dan kemudian mengambil keputusan mengenai serangan tersebut,” tegasnya.

Jadi kata dia, militer Israel tidak hanya menyerang begitu saja.

“Ada proses di IDF. Dan saya pikir kami adalah militer yang paling bermoral di dunia, jika Anda membandingkan tindakan kami dengan militer lain yang di masa lalu terlibat dengan organisasi teroris. Ini tidak mudah bagi kami. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, kami ingin memiliki perdamaian dengan rakyat Lebanon,” ujarnya.

“Kami berdoa untuk hari itu. Ketika saya masih kecil, kami biasa menyebut pagar antara Israel dan Lebanon sebagai pagar yang baik karena mereka adalah tetangga yang baik. Tetapi, sayangnya, banyak yang berubah sejak hari itu. Dan, hari ini, kita harus berurusan dengan Hizbullah yang mencoba membajak Lebanon,” tambahnya.

Geoff Bennett lantas menyinggung kematian jurnalis.

“Jurnalis Lebanon, Amal Khalil, tewas kemarin dalam serangan Israel. Perdana Menteri Lebanon menanggapi dengan mengatakan bahwa penargetan jurnalis oleh Israel—dan ini kutipannya—”bukan lagi insiden terisolasi, tetapi telah menjadi pendekatan yang mapan”,” ujarnya.

Menurutnya, Komite Perlindungan Jurnalis telah mendokumentasikan pola jurnalis yang tewas akibat serangan Israel.

“Tujuan militer apa yang dicapai dengan membunuh wartawan?” tanyanya.

Danny Danon menegaskan bahwa ia tidak setuju dengan pertanyaan tersebut.

“Itu bias. Dengan segala hormat, kami tidak menargetkan wartawan, titik. Sayangnya, jika ada wartawan yang berada di dekat teroris Hizbullah atau bunker Hizbullah atau peluncur Hizbullah, insiden tersebut terjadi, dan kami menyesalinya,” tegasnya.

“Tetapi menuduh Israel bahwa kami menargetkan wartawan, itu adalah fitnah berdarah. Anda tahu, apa sebenarnya yang kami maksudkan, bahwa kami mengumpulkan intelijen…” lanjutnya.

Bahwa Israel mengumpulkan intelijen sebelum serangan, Geoff Bennett menyatakan, “Saya tidak setuju. Saya tidak setuju. Saya tidak setuju dengan itu, Pak.”

“…dan kita sebenarnya ingin membunuh wartawan, dan bukan membunuh teroris Hizbullah?” ujar Danny Danon bertanya balik.

“Anda mengatakan bahwa Israel tidak menargetkan jurnalis. Amal Khalil telah meninggal. CPJ telah mendokumentasikan pola serangan Israel yang ditargetkan di Lebanon yang semakin meningkat, di mana 15 jurnalis dan pekerja media telah dibunuh oleh Israel sejak serangan 7 Oktober. Pemerintah Anda terus menyatakan bahwa Israel tidak menargetkan jurnalis. Tetapi pertanyaan saya sederhana. Pada jumlah jurnalis yang tewas berapa jawaban itu menjadi jawaban yang tidak dapat lagi diterima oleh komunitas internasional?” tanya Geoff Bennett.

Danny Danon menanggapi, “Geoff, itu keterlaluan. Ketika Anda mengatakan kita menargetkan jurnalis, Anda menyiratkan bahwa kita memiliki niat untuk membunuh jurnalis, dan itu bohong. Anda seharusnya mengajukan pertanyaan lain. Di mana para jurnalis itu berada saat serangan terjadi? Di mana mereka menghabiskan waktu? Mungkin mereka berada di dekat teroris Hizbullah, dan itulah sebabnya mereka berada di garis tembak, sayangnya.”

Geoff Bennett melanjutkan pertanyannya, “Apakah Anda tahu itu benar? Apakah Anda tahu itu benar?”

Danny Danon menegaskan, “Saya akan memberi tahu Anda satu hal.”

Geoff Bennett mendesaknya, “Apakah Anda tahu itu benar, Pak?”

“Kami akan memfokuskan upaya kami…” ujar Danny Danon.

“Saya menganggap itu sebagai jawaban tidak,” tegas Geoff Bennett.

“… kemampuan kami, intelijen kami, menargetkan teroris Hizbullah, titik. Kami tidak melakukannya terhadap warga sipil dan tentu saja tidak terhadap wartawan,” kata Danny Danon.

Di luar dari hasil wawancara itu, fakta menunjukkan bahwa sejak perang Gaza meletus, selain penargetan jurnalis, militer Israel juga dilaporkan melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap anak-anak.

Selain itu, mereka juga merusak rumah ibadah, patung Yesus, dan sejumlah kejahatan serta kekejaman lainnya.

Termasuk penyiksaan terhadap tahanan Palestina. Tidak heran, Israel dikecam hampir di seluruh dunia.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka