Ikuti Jejak Italia, Kolombia Serukan Dunia Putus Perjanjian Pertahanan dengan Israel

WARTADEMOKRASI.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu reaksi keras dari pemimpin dunia.

Presiden Kolombia Gustavo Petro secara terbuka menyerukan agar negara-negara di Eropa dan Amerika Latin mengikuti langkah berani Italia untuk menangguhkan seluruh perjanjian pertahanan dengan Israel.

Langkah ini diambil menyusul keputusan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni yang sebelumnya mengumumkan penangguhan perpanjangan otomatis perjanjian pertahanan dengan Tel Aviv.

Dukungan Petro ini menjadi sinyal kuat semakin terisolasinya posisi militer Israel di kancah internasional.

“Perdana Menteri Italia telah memutuskan menangguhkan perjanjian dengan Israel. Saya mendukung keputusan ini dan mengusulkan seluruh negara Eropa dan Amerika Latin mengikuti langkah itu untuk mencegah agresi di Timur Tengah,” ujar Petro melalui akun resminya di platform X, Selasa (14/4/2026).

Dialog Versus Roket

Dalam pernyataannya, Petro menekankan bahwa dunia sedang berada di persimpangan jalan antara perdamaian dan kehancuran.

Menurutnya, dialog antar-peradaban adalah satu-satunya jalan menuju stabilitas, sementara ketergantungan pada kekuatan militer hanya akan mempercepat kehancuran umat manusia.

“Dialog antar-peradaban mengarah pada perdamaian, sedangkan serangan roket berujung pada kehancuran umat manusia,” tegasnya.

Seruan Petro ini muncul di tengah situasi diplomasi global yang kian buntu.

Harapan publik dunia sempat membuncah saat Iran dan Amerika Serikat memulai perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April lalu.

Perundingan itu menyusul pengumuman gencatan senjata selama dua pekan oleh Presiden AS Donald Trump.

Perundingan Gagal, Hormuz Membara

Namun, harapan tersebut sirna dalam waktu singkat.

Pada Minggu (12/4/2026), Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.

Delegasi Amerika Serikat pun meninggalkan meja perundingan di Islamabad tanpa hasil apa pun.

Kegagalan diplomasi ini langsung direspons oleh Donald Trump dengan kebijakan militer yang agresif.

Trump mengumumkan bahwa AS akan mulai memberlakukan blokade total terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz—jalur nadi energi dunia.

Tak hanya blokade, Trump juga memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat kapal-kapal yang kedapatan membayar pungutan kepada Iran untuk melintasi jalur pelayaran tersebut.

Langkah sepihak Washington di Selat Hormuz ini diprediksi akan semakin memanaskan tensi global, sementara seruan Presiden Petro di Amerika Latin menandai pergeseran dukungan diplomatik yang semakin menjauh dari blok pertahanan Israel dan sekutunya.

Sumber: Inilah

Kamu mungkin suka