WARTADEMOKRASI.COM – Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko lagi-lagi berhadapan dengan mahasiswa.
Setelah belum lama ini memicu kemarahan mahasiswa di kampus Universitas Gadjah Mada atau UGM, Budiman Sudjatmiko kembali berurusan dengan mahasiswa.
Mantan aktivis 98 itu kembali berdebat panas dengan mahasiswa.
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, berdebat di sela-sela diskusi publik bertajuk “Perlukah Reformasi Jilid 2?” di Cafe & Resto Sadjoe, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu 17 Juni malam.
Mahasiswa bernama Natael Bremana, dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jateng-DIY menjulukinya pelacur reformasi.
“Bukan aktivis 98 melainkan pelacur reformasi. Sepakat! Karena dia bukan bicara tentang nilai, bukan bicara tentang kepentingan rakyat, tapi bicara tentang kepentingan pribadi. Bukan begitu bang Budiman,” tukas Natael.
Budiman langsung menjawab dengan nada keras dan naik pitam.
“Apa ukurannya pelacur?” tanya Budiman.
“Jual diri,” jawab Nathaniel.
“Apa yang saya jual?” tanya dia lagi.
“Keberpihakan pada rakyat,” jawab sang mahasiswa.
Adu mulut sempat memanas saat Budiman mempertanyakan arti kata “pelacur” yang dialamatkan kepadanya.
Natael mencontohkan jabatan Budiman di kabinet Prabowo adalah jabatan tambahan yang memboroskan anggaran.
“Hari ini kita melihat kabinet yang semakin gemuk. Reformasi menolak militerisme, tetapi sekarang TNI dan Polri aktif kembali dapat menduduki berbagai jabatan sipil. KKN masih menjadi persoalan, harga pangan terus naik, biaya pendidikan semakin mahal,” papar Natael di dalam forum diskusi.
Natael juga menyoroti ketimpangan sosial di Indonesia dengan merujuk pada rasio gini nasional yang berada di kisaran 0,38.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah belum otomatis meningkatkan taraf hidup kelompok miskin.
👇👇
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Badan Perwakilan Netizen (@badanperwakilannetizen)
Sumber: Disway