WARTADEMOKRASI.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kegaduhan di panggung geopolitik global.
Kali ini, ia mencoba menyeret sejumlah negara raksasa –mulai dari Inggris, Jepang, Korea Selatan, hingga China– untuk turun gelanggang mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Trump berambisi membentuk koalisi internasional guna menandingi gertakan Iran yang mengancam akan menutup total jalur urat nadi energi dunia tersebut.
Lewat platform Truth Social miliknya, Trump dengan gaya khasnya sesumbar bahwa dunia tidak akan tinggal diam.
“Banyak negara, terutama yang terdampak upaya penutupan Selat Hormuz oleh Iran, akan mengirimkan kapal perang bersama AS untuk menjaga selat tetap terbuka dan aman,” tulis Trump sebagaimana dikutip Senin (16/3/2026).
Namun, seruan Trump ini bak bertepuk sebelah tangan.
Alih-alih mendapatkan komitmen cepat, negara-negara yang diajak justru menunjukkan gelagat enggan.
Alasannya jelas: risiko militer di Selat Hormuz saat ini berada di level ‘mengerikan’.
Teheran tidak sedang menggertak sambal. Iran secara terbuka menyatakan bahwa setiap kapal tanker minyak yang menuju AS, Israel, atau sekutunya adalah target sah yang akan ‘segera dihancurkan’.
Data di lapangan menunjukkan kengerian itu nyata: sejak perang pecah akhir Februari lalu, 16 kapal tanker telah dihantam serangan di selat tersebut.
Ironisnya, di saat Trump sibuk mengajak negara lain, AS sendiri terpantau belum mengirimkan kapal angkatan lautnya untuk secara khusus mengawal tanker-tanker tersebut melewati titik panas itu.
Peta dukungan yang diharapkan Trump justru terlihat compang-camping:
Mereka lebih mengedepankan komunikasi diplomatik untuk deeskalasi ketimbang mengirim moncong meriam.
Langkah Trump ini menjadi ujian besar bagi pengaruh AS di bawah kepemimpinannya.
Di satu sisi, ancaman ranjau dan serangan rudal Iran di Selat Hormuz benar-benar mengancam ekonomi global.
Di sisi lain, para sekutu tampak trauma untuk terseret ke dalam perang terbuka yang dipicu oleh kebijakan agresif Washington.
Dunia kini menanti, apakah armada koalisi yang diimpikan Trump akan benar-benar berlayar, atau Selat Hormuz akan tetap menjadi wilayah ‘tak bertuan’ yang dikuasai penuh oleh bayang-bayang serangan Iran.
Sumber: Inilah