Trump Hina Paus Leo XIV, Presiden Iran dan Eropa Kompak Membela!

WARTADEMOKRASI.COM – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini merembet ke ranah diplomasi lintas agama.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan kecaman keras terhadap Presiden AS Donald Trump yang dinilai telah menghina Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV.

Polemik ini bermula dari sikap vokal Paus Leo XIV yang mengkritik agresi Washington terhadap Teheran.

Secara spesifik, Paus merespons ajakan doa dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada awal April lalu bagi militer AS.

Dalam khotbahnya, Sri Paus menegaskan bahwa hasrat untuk mendominasi sangat bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus, dan menyebut ancaman AS terhadap rakyat Iran ‘tidak dapat diterima’.

Serangan Retorika Trump

Kritik moral dari Vatikan itu rupanya membuat kuping Donald Trump panas. Mantan taipan properti itu membalas dengan melancarkan cacian tajam.

Trump menyebut Paus Leo XIV ‘lemah dalam menangani kejahatan’ dan ‘buruk dalam kebijakan luar negeri’.

Trump bahkan menuding kepemimpinan Paus asal Negeri Paman Sam tersebut digerakkan oleh motif politik belaka.

Serangan verbal inilah yang memicu reaksi keras dari Teheran.

Melalui platform X pada Senin (13/4/2026), Presiden Masoud Pezeshkian pasang badan untuk Sang Paus.

“Yang Mulia Paus Leo XIV, saya mengutuk penghinaan terhadap Yang Mulia atas nama bangsa besar Iran. Penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang merdeka,” tulis Pezeshkian.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, turut menambahkan bahwa hinaan Trump sama sekali ‘tidak kristiani’.

Ia menyebut retorika Trump sebagai serangan terang-terangan terhadap advokasi yang bertanggung jawab atas perdamaian dan keadilan.

“Di era ketika gemuruh bom dan hiruk pikuk para panglima perang membebani hati nurani dunia, kata-kata Paus Leo XIV menggemakan seruan mendalam Injil: ‘Berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian’,” tegas Baghaei.

Dukungan Eropa dan Sikap Teguh Paus

Gelombang pembelaan terhadap Paus tak hanya datang dari Timur Tengah.

Para pemimpin Eropa turut mengecam arogansi Trump. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memberikan dukungan moral penuh.

“Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Sementara sebagian pihak menabur dunia dengan perang, Paus Leo XIV menabur perdamaian dengan keberanian,” cuit Sanchez seraya menyatakan kehormatannya untuk menyambut Paus di Spanyol dalam waktu dekat.

Senada dengan itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menegaskan bahwa pernyataan Trump terhadap Paus tidak dapat diterima oleh nalar diplomasi mana pun.

Lalu, bagaimana respons Paus Leo XIV menghadapi gertakan Trump?

Paus yang lahir di Chicago dengan nama Robert Francis Prevost ini menegaskan dirinya tidak gentar.

Paus AS pertama dalam sejarah yang terpilih pada Mei 2025 tersebut menyatakan akan terus menentang pamer kekuatan yang memicu perang, karena tindakannya murni berakar pada ajaran Injil, bukan kepentingan politik sesaat.

Ia juga memilih menjaga muruah Takhta Suci dengan tidak meladeni debat kusir langsung dengan Trump.

Sebuah ironi geopolitik modern baru saja tercatat: ketika seorang Presiden Amerika menghina Paus Amerika pertama dalam sejarah, justru pemimpin sebuah Republik Islam yang berdiri tegak membela.

Sumber: Inilah

Kamu mungkin suka