WARTADEMOKRASI.COM – Isu pemakzulan Prabowo Subianto kembali dipantik ke ruang publik.
Bukan sekadar wacana liar, narasi ini kini dibedah secara terbuka dalam podcast Forum Keadilan yang menghadirkan pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago.
Ia menyebut, dalam politik, tidak ada peristiwa yang benar-benar alamiah—semuanya punya desain, aktor, dan tujuan.
Dalam perbincangan yang dipandu jurnalis senior Margi Syarif, Pangi menggarisbawahi satu hal: jika berbicara pemakzulan, maka pertanyaan utamanya selalu sama—siapa yang paling dekat dan siapa yang paling diuntungkan.
Ia menilai, lingkar terdekat kekuasaan justru menjadi titik paling krusial untuk dibaca, termasuk posisi wakil presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Pangi, dinamika politik saat ini menunjukkan gejala yang tidak bisa dianggap kebetulan.
Ia menyinggung potensi adanya “operasi liar” yang justru merusak citra Presiden dari dalam, mulai dari isu kebijakan yang dinilai tidak pro-rakyat hingga potensi instabilitas akibat tekanan ekonomi seperti wacana kenaikan BBM.
Dalam logika politiknya, kondisi kacau adalah pintu masuk bagi skenario besar: menurunkan kepercayaan publik secara perlahan.
Ia bahkan menarik analogi dari sejarah politik Indonesia, seperti kejatuhan Abdurrahman Wahid pada awal 2000-an dan dinamika pasca-Reformasi 1998.
Dalam dua peristiwa itu, kata Pangi, publik tidak pernah benar-benar tahu siapa aktor utamanya, tetapi jelas terlihat siapa yang akhirnya mengambil alih kekuasaan.
Lebih jauh, ia juga menyinggung bayang-bayang pengaruh Joko Widodo dan kelompok yang disebutnya sebagai “geng Solo” dalam konfigurasi kekuasaan saat ini.
Pangi menyebut, komposisi kabinet yang masih diwarnai figur lama berpotensi menjadi beban politik bagi Presiden jika tidak segera dievaluasi.
Di sisi lain, ia justru mengapresiasi beberapa kebijakan Presiden yang dinilai berpihak pada rakyat, seperti menahan kenaikan harga BBM dan menjaga stabilitas kebutuhan dasar.
Namun, menurutnya, kebijakan tersebut bisa kehilangan dampak jika tidak diiringi konsolidasi internal yang kuat.
“Dalam politik, jangan terlalu lama ragu. Kalau tidak, bisa disalip di tikungan,” ujarnya, mengingatkan bahwa momentum politik bisa berubah cepat dan tak terduga.
Narasi pemakzulan ini, bagi Pangi, tidak akan hilang begitu saja.
Ia menilai isu tersebut akan terus muncul mengikuti momentum—terutama jika ada celah kebijakan atau kegagalan komunikasi publik dari pemerintah.
Dalam situasi seperti ini, kata dia, kunci utamanya adalah kewaspadaan dan keberanian mengambil keputusan strategis di lingkar kekuasaan.
Di tengah riuhnya spekulasi, satu hal menjadi jelas: politik tidak pernah berdiri di ruang hampa.
Setiap isu, termasuk pemakzulan, selalu membawa kepentingan—dan pertanyaan besarnya tetap sama, siapa yang bermain, dan siapa yang akan menang.
[FULL VIDEO]
Sumber: Herald