Saat Gagasan Menghilang dari Politik: Rocky, Anies, dan Sukidi Bicara Perlawanan Demokrasi!

WARTADEMOKRASI.COM – Dalam sebuah perbincangan yang mengalir tajam namun tetap renyah, Rocky Gerung, Anies Baswedan, dan cendekiawan Muslim lulusan Harvard, Sukidi Mulyadi, membedah satu hal yang terasa makin menjauh dari praktik politik hari ini: gagasan.

Diskusi yang dipandu Eep Saefulloh Fatah itu seperti membuka kembali ruang yang lama tertutup—bahwa demokrasi sejatinya berdiri di atas kepercayaan (trust), bukan ketakutan (fear).

Rocky mengingatkan, sistem otoriter bertahan karena rasa takut, sementara demokrasi hanya bisa hidup jika publik percaya pada proses dan pada akal sehat.

Masalahnya, kepercayaan itu kini terasa rapuh, tergantikan oleh pragmatisme yang dangkal.

Anies Baswedan menyoroti bagaimana demokrasi sebenarnya dirancang sebagai mekanisme pengendalian kekuasaan—dibatasi oleh ruang (scope) dan waktu (durasi).

Jika terjadi salah pilih, kata dia, penderitaan tidak berlangsung lama karena ada batas periode.

Namun ia mengingatkan, ancaman muncul ketika kekuasaan mulai memperluas ruangnya dan mencoba memperpanjang waktunya.

Di sisi lain, Sukidi melihat perubahan besar dalam lanskap demokrasi modern: hilangnya “perantara” antara rakyat dan politik.

Dulu, media dan institusi menjadi jembatan. Kini, semua orang menjadi penyampai informasi.

Akibatnya, keputusan politik sering lahir bukan dari pertimbangan substansi, melainkan dari kesukaan dan popularitas.

Percakapan pun bergerak pada kegelisahan yang lebih dalam: politik kehilangan daya intelektualnya.

Rocky menyebutnya gamblang—“bring intellectual back into politics.”

Ia menilai, politik hari ini miskin argumentasi, bahkan seringkali sekadar transaksi pragmatis.

Istilah “harmoni” yang kerap digaungkan, menurutnya, justru menyesatkan jika menutupi konflik gagasan yang seharusnya menjadi inti demokrasi.

Dalam nada yang sama, Anies menekankan pentingnya meritokrasi—bahwa kepemimpinan harus lahir dari gagasan, rekam jejak, dan kapasitas, bukan sekadar elektabilitas.

Ia mengibaratkan sepak bola Brasil yang konsisten melahirkan pemain hebat karena sistemnya murni berbasis kemampuan.

Diskusi itu juga menyinggung peran generasi muda dan teknologi sebagai “segitiga emas” abad ke-21: demokrasi, anak muda, dan digitalisasi.

Kombinasi ini terbukti mampu meruntuhkan rezim berbasis ketakutan, namun belum tentu mampu membangun kepercayaan yang menjadi fondasi demokrasi itu sendiri.

Pada akhirnya, obrolan tersebut bermuara pada satu kesimpulan yang menggugah: demokrasi tidak akan mati karena kritik, tetapi bisa runtuh jika kehilangan gagasan.

Dari ruang diskusi itu, muncul seruan sunyi namun tegas—bahwa perlawanan bukan sekadar kemarahan sesaat, melainkan kerja panjang untuk menghidupkan kembali akal sehat dalam politik.

Dan mungkin, seperti yang tersirat di akhir perbincangan, demokrasi hanya akan bertahan jika warga negara tidak berhenti bertanya, berpikir, dan berani berbeda.

Karena di situlah, perlawanan menemukan bentuknya.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka