Last Warning! Gema Goeyardi Beberkan 6 ‘Ancaman Besar’ Yang Bisa Picu Krisis Ekonomi RI

WARTADEMOKRASI.COM – CEO Astronacci International, Gema Goeyardi, menyebut situasi saat ini bukan sekadar perlambatan ekonomi biasa, melainkan fase kritis yang berpotensi menyeret Indonesia ke krisis besar jika tidak segera ditangani.

Dalam tayangan di kanal YouTube Astronacci, Gema menggambarkan tekanan ekonomi datang dari dua arah sekaligus: dalam negeri yang rapuh dan gejolak global yang makin tak menentu.

Ia menilai kombinasi ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Indonesia pasca pandemi.

Menurutnya, pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.000 per dolar AS menjadi sinyal awal tekanan serius.

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya utang pinjaman online, menipisnya ruang fiskal pemerintah, serta daya beli masyarakat yang terus tergerus.

Ia menyoroti fenomena meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pinjol sebagai indikator nyata bahwa penghasilan tak lagi mampu menutup kebutuhan hidup.

“Kalau pinjol terus naik, itu artinya masyarakat sudah tidak punya uang,” ujar Gema.

Ia juga menyoroti jurang antara kenaikan biaya hidup dan pendapatan.

Harga kebutuhan pokok disebut melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sementara kenaikan upah tidak mampu mengimbanginya. Dampaknya, banyak masyarakat bekerja lebih keras namun tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Data yang dipaparkannya menunjukkan kelas menengah Indonesia terus menyusut.

Tabungan masyarakat kelas bawah pun terkikis drastis sejak pandemi. Bahkan, jutaan orang disebut turun kelas secara ekonomi hanya dalam waktu singkat.

Di sisi lain, tekanan global dinilai memperparah keadaan.

Konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, mendorong lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada inflasi dan biaya produksi.

Kenaikan harga energi disebut akan merembet ke seluruh sektor, mulai dari transportasi hingga pangan.

Gema memperingatkan adanya “enam dimensi kematian” ekonomi, mulai dari inflasi global, penguatan dolar AS, perlambatan perdagangan dunia, hingga menurunnya kepercayaan pasar.

Rantai tekanan ini, menurutnya, akan bermuara pada satu titik: melemahnya daya beli masyarakat dan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja.

Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai belum cukup efektif merespons situasi.

Menurutnya, tanpa langkah strategis dan kepemimpinan yang kompeten, tekanan ini bisa berkembang menjadi krisis ekonomi yang lebih luas, bahkan berpotensi memicu instabilitas sosial.

Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor turut menjadi sorotan.

Kenaikan nilai tukar dolar otomatis mendorong harga barang impor, termasuk bahan pangan dan bahan baku industri, yang pada akhirnya dibebankan ke konsumen.

Gema memperkirakan, jika tekanan terus berlanjut, harga bahan bakar bersubsidi bisa melonjak tajam akibat beban subsidi yang tak lagi mampu ditanggung APBN.

Kondisi ini berisiko memicu efek domino terhadap harga-harga lainnya.

Meski demikian, ia menilai masih ada ruang untuk mengantisipasi krisis.

Pemerintah didorong untuk menjaga stabilitas rupiah, menekan belanja tidak produktif, serta memperkuat daya beli masyarakat melalui subsidi yang tepat sasaran.

Di sisi masyarakat, ia mengingatkan pentingnya bertahan dengan mengurangi konsumsi, menambah sumber pendapatan, meningkatkan keterampilan, serta memperbanyak cadangan dana.

“Ini bukan situasi normal. Semua harus bersiap. Kalau tidak, dampaknya bisa sangat besar dalam satu sampai dua tahun ke depan,” kata Gema.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka