Bikin Istana Kebakaran Jenggot! Amien Rais ‘Dikeroyok’ Habis-Habisan Gara-Gara Isu Teddy & Prabowo

WARTADEMOKRASI.COM – Riuh politik kembali berdenyut dari jantung kekuasaan.

Bukan soal kebijakan, melainkan percakapan yang bergeser ke ranah personal, lalu menjelma jadi polemik nasional.

Isu hubungan antara Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Presiden Prabowo Subianto, yang semula bergulir sebagai kritik, kini berubah menjadi arena saling tangkis antar elite.

Dalam podcast Ahmad Khozinudin, narasi yang muncul terasa panas: istana disebut “pasang badan” secara kolektif.

Sejumlah pejabat, dari Menteri Komunikasi Digital hingga Menteri Hak Asasi Manusia, ikut angkat suara membela Teddy.

Nama Amien Rais, tokoh reformasi yang melontarkan kritik, justru menjadi sasaran balik.

Menteri HAM Natalius Pigai, misalnya, secara terbuka meminta Amien Rais untuk meminta maaf atau setidaknya mencabut pernyataannya.

Ia menilai kritik tersebut tidak elok dan menyerang individu, bukan kebijakan.

Pernyataan ini sontak memantik perdebatan baru: sejauh mana negara boleh masuk dalam konflik yang dianggap personal?

Di titik ini, kritik balik mengeras. Ahmad Khozinudin menyoroti kontradiksi—ketika pejabat meminta agar kritik difokuskan pada kebijakan, tetapi justru negara turun tangan membela individu.

Ia mempertanyakan relevansi intervensi tersebut, bahkan menyebutnya sebagai pemborosan peran negara yang seharusnya berpihak pada kepentingan publik.

Lebih jauh, narasi podcast itu menyinggung ironi lain: di tengah berbagai persoalan publik—mulai dari isu kesehatan, pendidikan, hingga dugaan pelanggaran hak—respons pejabat dinilai tak secepat ketika membela figur di lingkar kekuasaan.

Kesan yang muncul: negara sigap ketika elite disentuh, tetapi lamban saat rakyat membutuhkan.

Di ruang digital, gema polemik ini makin keras.

Publik terbelah antara yang melihat pembelaan itu sebagai bentuk loyalitas dan yang menilainya sebagai gejala berlebihan—bahkan indikasi adanya kekuatan tak kasatmata di balik struktur formal kekuasaan.

Sementara itu, Teddy sendiri justru tetap diam. Tak ada klarifikasi langsung.

Kekosongan suara itu justru memperbesar gema—membiarkan tafsir liar berkembang di tengah publik yang sudah lama curiga pada relasi kuasa yang tak transparan.

Di era ketika setiap percakapan bisa viral dalam hitungan detik, hukum tak lagi hanya ditegakkan di ruang sidang, tetapi juga di ruang opini.

Seperti adagium yang berulang kali disebut: no viral, no justice.

Dan di tengah riuh ini, satu pertanyaan menggantung: ketika negara turun tangan membela individu, apakah itu bentuk perlindungan, atau justru tanda bahwa batas antara kekuasaan publik dan kepentingan personal mulai kabur?

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka