WARTADEMOKRASI.COM – Duh, belakangan ini kabar soal kekerasan di lingkungan kampus makin sering terdengar.
Mulai dari perundungan, kekerasan fisik, sampai kasus kekerasan seksual.
Eh, sebenarnya ada apa sih dengan dunia kampus kita?
Banyak yang langsung mengaitkan fenomena ini dengan stigma “pergaulan bebas” di kalangan mahasiswa.
Tapi, benarkah sesederhana itu? Hmm… ternyata nggak juga.
Faktanya, kekerasan di kampus punya akar masalah yang jauh lebih kompleks.
Salah satunya adalah relasi kuasa yang tidak seimbang.
Misalnya antara senior dan junior, atau bahkan antara dosen dan mahasiswa.
Dalam situasi seperti ini, korban sering kali merasa takut untuk melapor. Waduh, ini yang bikin kasusnya seperti gunung es.
Selain itu, tekanan akademik dan sosial juga jadi pemicu.
Mahasiswa dituntut untuk berprestasi, aktif organisasi, sekaligus punya kehidupan sosial.
Kalau nggak kuat, stres bisa menumpuk dan meledak dalam bentuk perilaku agresif.
Duh, berat juga ya jadi mahasiswa zaman sekarang.
Lalu soal pergaulan bebas, ini sering jadi “kambing hitam”.
Padahal, tidak semua mahasiswa menjalani gaya hidup seperti itu.
Generalisasi seperti ini justru bisa menutup pemahaman kita terhadap masalah yang sebenarnya.
Yang lebih penting, kurangnya edukasi soal kesehatan mental dan batasan dalam hubungan juga berperan besar.
Banyak mahasiswa yang belum sepenuhnya memahami consent atau persetujuan dalam interaksi sosial.
Nah, di sinilah potensi konflik dan kekerasan bisa muncul.
Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui berbagai kebijakan mulai mendorong kampus untuk lebih serius menangani kasus kekerasan, termasuk menyediakan layanan pengaduan dan pendampingan korban.
Jadi, maraknya kekerasan di kampus bukan semata-mata karena pergaulan bebas.
Ada faktor budaya, tekanan, hingga sistem yang perlu dibenahi bersama.
Nah, sekarang saatnya kita lebih bijak melihat persoalan ini.
Jangan cuma menyalahkan, tapi juga mencari solusi.
Karena kampus seharusnya jadi tempat aman untuk belajar, bukan malah jadi sumber trauma.
Sumber: PojokSatu