Digelari Malaikat Maut! Sosok Paling ‘Ditakuti’ Pasukan Khusus Amerika Ini Tiba di Teheran

WARTADEMOKRASI.COM – Di tengah rapuhnya gencatan senjata di Timur Tengah, satu nama lama kembali bergaung—membelah antara mitos, propaganda, dan realitas medan perang.

Ayub Falih Hasan Al-Rubei, yang lebih dikenal sebagai Abu Asrael, disebut-sebut telah tiba di Teheran bersama sejumlah pasukannya.

Kabar itu beredar cepat, diperkuat oleh potongan video dan foto yang memperlihatkan sosok yang dijuluki “malaikat maut” itu tengah berbincang santai dan berfoto dengan warga.

Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Iran maupun pihak terkait.

Di kawasan yang terbiasa dengan kabut informasi, kebenaran sering berjalan lebih lambat dari rumor.

Meski demikian, kemunculan nama Abu Asrael di momen seperti ini bukan tanpa makna.

Ia bukan figur biasa dalam lanskap konflik Timur Tengah.

Sosoknya dikenal luas sejak Perang Irak 2003, ketika ia bertempur melawan pasukan Amerika Serikat sebagai bagian dari Tentara Mahdi.

Dengan tubuh kekar, sorot mata tajam, dan jargon khas “illa tahin”—yang berarti “akan menghancurkanmu hingga menjadi debu”—ia menjelma simbol perlawanan sekaligus kontroversi.

Di satu sisi, ia dipuja sebagai pejuang.

Di sisi lain, ditakuti sebagai representasi kekerasan tanpa kompromi.

Perjalanannya pun tidak biasa. Sebelum dikenal sebagai komandan milisi, Abu Asrael adalah seorang dosen universitas dan atlet taekwondo. Namun perang mengubah segalanya.

Ia kemudian menjadi figur kunci dalam Popular Mobilization Forces, jaringan milisi yang memainkan peran penting dalam konflik Irak pasca-invasi.

Narasi tentang dirinya kerap dibumbui klaim—bahwa ia ditakuti pasukan elit Amerika, bahwa kehadirannya menjadi simbol perlawanan yang tak tergoyahkan.

Sebagian mungkin dibentuk oleh persepsi, sebagian lagi oleh pengalaman panjang di medan tempur.

Kini, di saat Israel dituduh melanggar gencatan senjata dan ketegangan kembali meningkat, kabar kedatangannya ke Teheran seperti isyarat simbolik.

Bukan sekadar perpindahan seorang individu, tetapi potensi pesan bahwa garis konflik bisa kembali mengeras.

Di jalan-jalan Teheran, kehidupan mungkin masih berjalan.

Namun di balik itu, bayang-bayang konflik tetap menggantung—dan nama Abu Asrael kembali menjadi bagian dari narasi besar yang belum menemukan titik akhir.

Apakah ia benar telah tiba? Atau hanya bayangan lama yang dipanggil kembali oleh situasi?

Di Timur Tengah, keduanya sering kali sulit dibedakan.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka