WARTADEMOKRASI.COM – Ruang kritik kembali bergema, kali ini datang dari Said Didu yang secara terbuka mengaku frustrasi terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sebuah pidato yang beredar luas, ia tak lagi sekadar mengkritik, tetapi mempertanyakan arah dan konsistensi kepemimpinan nasional.
Nada suaranya tidak meledak-ledak, namun isi pesannya tajam.
Said Didu mengaku sejak awal menghargai niat Prabowo membangun bangsa, terutama narasi besar soal nasionalisme dan patriotisme.
Namun, seiring waktu, ia justru melihat jarak antara kata dan realitas kian melebar.
“Dulu saya menghargai niatnya, tapi frustrasi melihat caranya. Sekarang, kalau dipikir-pikir, lama-lama kita bisa gila memikirkan caranya,” ucapnya, menggambarkan kebingungan yang ia rasakan.
Bagi Said Didu, persoalan bukan lagi pada retorika, melainkan implementasi.
Ia menilai janji-janji tentang nasionalisme dan patriotisme yang kerap disampaikan justru semakin menjauh dari praktik di lapangan.
Bahkan, ia mengaku sampai pada titik mempertanyakan: apakah yang sekarang terlihat adalah wajah asli kepemimpinan itu sendiri, atau justru penyimpangan dari jati diri yang pernah dijanjikan.
Dalam pidatonya, ia juga menyinggung perlunya pendekatan yang “membumi”, bukan sekadar wacana besar yang mengawang.
Ia mengingatkan bahwa persoalan bangsa ada di depan mata, bukan di ruang diskursus yang terlalu jauh dari realitas sosial.
Kritik tersebut tidak berdiri sendiri. Said Didu mengaitkannya dengan kekhawatiran lebih besar: arah keselamatan bangsa.
Ia mempertanyakan apakah kondisi Indonesia saat ini semakin baik atau justru bergerak menjauh dari cita-cita awal reformasi dan demokrasi.
Menurutnya, jika situasi memburuk, maka energi kritik dan gerakan masyarakat seharusnya meningkat, bukan melemah.
Ia bahkan mengingatkan bahwa tanda-tanda keresahan publik mulai terlihat, salah satunya dari maraknya kritik di ruang publik yang semakin terbuka dan tajam.
Dalam bagian lain pidatonya, Said Didu juga menyinggung dinamika geopolitik, membandingkan dengan negara lain yang dinilai maju karena konsistensi pada nilai nasionalisme dan kepemimpinan yang kuat.
Ia menilai faktor-faktor tersebut menjadi kunci, bukan sekadar kekuatan ekonomi atau politik semata.
Meski keras, kritik itu tetap menyisakan harapan.
Ia menyatakan masih berharap Presiden kembali pada nilai-nilai yang pernah dijanjikan—nilai yang, menurutnya, menjadi fondasi penting agar negara tidak kehilangan arah.
Pidato itu kini beredar luas dan memicu diskusi publik. Di tengah situasi global yang tidak pasti dan tekanan domestik yang kompleks, pernyataan Said Didu menjadi cermin lain dari kegelisahan sebagian kalangan terhadap arah kebijakan nasional—apakah masih di jalur yang dijanjikan, atau justru sedang bergerak ke arah yang berbeda.
Sumber: Herald