WARTADEMOKRASI.COM – Kesabaran dunia Islam tampaknya mulai mencapai batasnya.
Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) secara resmi melayangkan kecaman paling keras terhadap otoritas pendudukan Israel yang terus bersikap arogan dengan menutup akses ke Masjid Al-Aqsa.
Hingga hari kedelapan berturut-turut, kiblat pertama umat Muslim tersebut masih digembok rapat bagi para jemaah.
Tindakan sepihak ini dipandang bukan sekadar masalah administrasi keamanan biasa, melainkan bentuk penindasan yang sistematis.
Dalam pernyataan resminya, OKI menegaskan bahwa penutupan akses ibadah ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia, khususnya mengenai kebebasan beragama.
OKI menggambarkan langkah Israel sebagai bentuk penghinaan nyata terhadap kesucian tempat-tempat suci (sacred sites).
Penutupan yang berlarut-larut ini tidak hanya berdampak pada warga Palestina di Yerusalem, tetapi juga merupakan provokasi tajam yang menyakiti perasaan miliaran umat Muslim di seluruh penjuru dunia.
“Ini adalah serangan terhadap kesucian Islam. Menghalangi umat untuk bersujud di rumah ibadahnya sendiri adalah tindakan nekat yang merusak tatanan toleransi global,” tulis pernyataan resmi Sekretariat Jenderal OKI yang dipantau dari Jeddah, Minggu (8/3/2026).
Lebih jauh, Sekretariat Jenderal OKI memberikan peringatan serius kepada komunitas internasional.
Jika pelanggaran sistematis dan serangan terhadap kota Yerusalem yang diduduki ini terus dibiarkan, maka stabilitas kawasan Timur Tengah berada dalam pertaruhan besar.
Israel dianggap sedang bermain api dengan memicu siklus kekerasan dan ketegangan baru.
Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah titik api (flashpoint) utama di kawasan.
Setiap gangguan terhadap status quo masjid suci ini hampir selalu berujung pada eskalasi konflik berdarah yang sulit dipadamkan.
OKI memperingatkan bahwa ketegangan yang meningkat di Yerusalem bisa menjadi katalisator bagi kekacauan yang lebih luas, yang akan semakin menggoyahkan stabilitas kawasan yang saat ini sudah sangat rapuh.
Melalui pernyataan ini, OKI mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta kekuatan global lainnya untuk tidak lagi menutup mata.
Menghentikan arogansi otoritas pendudukan Israel di Yerusalem bukan lagi sekadar pilihan diplomasi, melainkan keharusan mutlak untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar di masa depan.
Dunia kini menanti, apakah suara dari 57 negara anggota OKI ini akan mampu memaksa Israel membuka kembali pintu-pintu masjid suci tersebut, ataukah Yerusalem akan kembali menjadi saksi bisu dari ledakan amarah yang tak terkendali.
Sumber: Inilah