WARTADEMOKRASI.COM – Azan Subuh berkumandang. Dalam pengakuan yang disampaikan di Podcast NTB Satu, seorang perempuan yang mengaku korban eks Kapolres Bima Kota menceritakan momen yang ia sebut paling mengguncang batinnya: setelah dugaan pesta narkoba dan paksaan hubungan bertiga, sang perwira dan istrinya disebut bangun, menggelar sajadah, lalu salat berjemaah di hadapannya.
“Seperti tidak terjadi apa-apa,” ucapnya lirih.
Menurut pengakuannya, peristiwa itu terjadi menjelang Subuh.
Ia mengklaim sebelumnya dipaksa mengonsumsi narkotika, mendapat tekanan untuk melakukan hubungan seksual bertiga (threesome), dan mengalami kekerasan verbal maupun nonverbal saat menolak.
Ia juga menyebut adanya seorang pria lain yang dipanggil “Koko” di lokasi kejadian.
Korban menuturkan, temannya sempat diarahkan untuk bersama pria tersebut, namun dipulangkan lebih cepat.
Sementara dirinya, ia mengaku ditekan untuk tetap memenuhi keinginan pasangan suami istri itu. Tuduhan ini belum memperoleh tanggapan resmi dari pihak yang disebut.
Bagian paling kontras dalam kesaksiannya adalah ritual ibadah yang disebut berlangsung sesaat setelah rangkaian peristiwa itu.
“Kalau manusia normal tidak akan melakukan hal seperti itu,” ujarnya, menggambarkan keguncangan psikologis yang ia alami saat melihat keduanya salat di depan dirinya.
Tak berhenti di situ, ia juga mengungkap dugaan transaksi uang dalam jumlah besar.
Ia mengaku melihat koper berisi uang tunai yang dibuka di hadapannya.
Uang itu, katanya, dikeluarkan sang istri setelah terjadi tekanan mental terhadap dirinya.
Ia bahkan menyebut koper tersebut identik dengan barang bukti yang kemudian disita dalam perkara lain.
Full Video di Akhir Artikel
Dalam konferensi pers sebelumnya, aparat memang merilis penyitaan barang bukti terkait perkara narkotika yang menyeret nama eks Kapolres tersebut.
Namun, kaitan langsung antara koper yang disebut korban dan barang bukti resmi masih menjadi wilayah yang harus dibuktikan secara hukum.
Pendamping korban menegaskan, pengungkapan ini dilakukan demi mendorong perhatian publik dan memastikan tidak ada lagi korban yang memilih diam.
Ia mengakui proses hukum masih berjalan dan belum final.
Kasus ini memperlihatkan ironi yang menyayat: dugaan penyalahgunaan kuasa, narkotika, dan kekerasan seksual berkelindan dalam satu ruang privat, sementara citra publik tetap terjaga di luar.
Ketika azan Subuh berkumandang dan sajadah dibentangkan, publik kini menunggu—apakah penegakan hukum akan benar-benar membentangkan keadilan dengan terang yang sama.
[VIDEO]
Sumber: Herald