Cerita Yenny Wahid Tentang Perannya Saat Gus Dur Menjabat Presiden

WARTADEMOKRASI.COM – Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid , menceritakan tentang perannya saat sang ayah menjabat sebagai orang nomor 1 di Indonesia.

Yenny mengungkapkan, dia mengambil peran sebagai orang yang membawa kabar buruk dan menyampaikannya kepada Gus Dur .

“Waktu zaman Gus Dur saya mengambil peran sebagai orang yang membawa kabar buruk,” ungkap Yenny dalam siniar atau podcast Bikin Terang, dikutip Sabtu (17/1/2026).

Yenny mengatakan, peran yang diambilnya itu sangat berat.

“Pemimpin pasti sebellah kalau dikasih kabar buruk, niatnya udah baik, tetapi Bapak tahu bahwa niat saya adalah buat jagain Bapak. Mungkin sebel, tapi didengerin,” kata perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh ini.

Menurut Yenny, penting bagi seorang pemimpin mempunyai orang-orang di sekelilingnya yang memang betul-betul genuine, loyal, dan mau menjaga keselamatan pemimpinnya, dengan cara mengingatkan terus.

“Pembantu presiden yang baik, ngingetin presiden supaya jangan salah arah,” ujarnya.

Yenny mengatakan, zaman sudah berubah. Michel Foucault, filsuf Prancis, mengatakan kekuasaan saat ini tidak lagi tersentralisasi, tetapi terdesentralisasi.

“Kekuasaan tidak hanya ada di istana atau mereka yang punya senjata, tetapi juga pada mereka yang punya HP, yang punya medsos, mereka yang bisa melakukan konsolidasi untuk bisa beraksi di jalan, kekuasaan ada di mana-mana, bahkan ada di komedi, di pertunjukan-pertunjukan,” jelasnya.

Keseimbangan, kata Yenny, harus dijaga. Caranya, dengan terus mendengarkan.

“Suasana kebatinan masyarakat di mana sih? Ini harus terus didengarkan,” ujarnya.

Sumber: SindoNews

Kamu mungkin suka