UPDATE! Iran Sudah Pilih Pemimpin Tertinggi Baru, Namanya Pernah Disebut Trump, Siapa?

WARTADEMOKRASI.COM – Majelis Ahli Iran telah memilih pemimpin tertinggi baru negara itu, tetapi nama tokoh yang akan menggantikan Ayatollah Ali Khamenei tersebut belum diumumkan secara resmi.

Anggota Majelis Ahli Ahmad Alamolhoda mengatakan, proses pemungutan suara sudah selesai dan seorang pemimpin telah dipilih.

“Pemungutan suara untuk menunjuk pemimpin telah berlangsung dan pemimpin telah dipilih,” ujar Alamolhoda, seperti dikutip kantor berita Mehr Iran, Minggu (8/3/2026).

Ia menambahkan, sekretariat majelis akan menyampaikan nama pemimpin terpilih pada waktu yang akan diumumkan kemudian.

Anggota Majelis Ahli lainnya, Mohammad Mehdi Mirbagheri, juga memastikan bahwa kesepakatan mayoritas telah tercapai.

“Pendapat tegas yang mencerminkan pandangan mayoritas telah tercapai,” kata Mirbagheri dalam video yang disiarkan kantor berita Fars Iran.

Dikutip dari kantor berita AFP, Majelis Ahli merupakan lembaga ulama yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi Iran, jabatan pemegang otoritas politik dan agama paling tinggi di negara tersebut, serta memiliki keputusan akhir atas seluruh urusan negara.

Sejumlah anggota majelis lainnya juga mengonfirmasi bahwa keputusan telah diambil.

Nama pemimpin baru pernah disebut Trump

Mohsen Heydari, yang mewakili Provinsi Khuzestan dalam badan seleksi itu, menyebut mayoritas anggota telah menyepakati sosok kandidat.

“Kandidat paling cocok, yang disetujui oleh mayoritas Majelis Ahli, telah ditentukan,” kata Heydari, menurut kantor berita ISNA Iran.

Ia juga menyinggung bahwa pihak luar turut menyoroti proses tersebut.

“‘Setan Besar’ pernah menyebut nama yang kemudian terpilih ini,” tambahnya, mengacu pada julukan untuk Amerika Serikat (AS).

Salah seorang anggota majelis bahkan mengisyaratkan kemungkinan putra mendiang pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei, menjadi penerus.

Mojtaba sejak lama memang digadang-gadang menjadi calon pengganti ayahnya yang menjabat sejak 1989.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dirinya seharusnya memiliki peran dalam menentukan pemimpin berikutnya di Iran.

Ia juga menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei mengisi posisi tersebut dan menyebutnya tokoh yang tidak berpengaruh.

Pejabat Iran dengan tegas menolak klaim tersebut dan menegaskan, Washington berhak ikut campur dalam proses penunjukan pemimpin tertinggi.

Proses pemilihan pemimpin tertinggi berlangsung setelah Ayatollah Ali Khamenei meninggal pada 28 Februari dalam serangan AS-Israel ke kantornya di Teheran.

Serangan itu memicu konflik yang kemudian meluas di Timur Tengah.

Di tengah proses pemilihan, akun militer Israel berbahasa Farsi di platform X pada Minggu mengancam akan menyerang anggota Majelis Ahli yang terlibat pemilihan pemimpin baru.

“Kami ingin memberi tahu Anda bahwa Negara Israel akan terus memantau dengan cermat setiap pengganti dan siapa pun yang berupaya menunjuk pengganti,” demikian bunyi unggahan tersebut.

Meski demikian, Mirbagheri menegaskan bahwa para anggota majelis tetap melanjutkan proses sesuai rencana, meskipun situasi dinilai sulit.

Ia mengatakan, proses dilakukan dengan hati-hati karena situasi saat ini sulit dan masih ada hambatan.

Sumber: Kompas

Kamu mungkin suka