WARTADEMOKRASI.COM – Memasuki akhir pekan pertama operasi militer Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, sebuah kenyataan pahit harus dihadapi Donald Trump.
Alih-alih mendapatkan dukungan nasional yang solid, sang presiden justru menghadapi penolakan masif dari mayoritas warganya.
Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh PBS News/NPR/Marist pada Jumat (6/3/2026), menunjukkan bahwa kebijakan militer Trump di Timur Tengah tidak populer di mata publik.
Sebanyak 56 persen warga Amerika secara tegas menyatakan menentang aksi militer terhadap Teheran, sementara hanya 44 persen yang memberikan dukungan.
Data survei tersebut memotret wajah Amerika yang terbelah secara ekstrem berdasarkan garis partai.
Di satu sisi, Trump masih memegang kendali penuh atas loyalitas pendukungnya:
Namun, yang paling mengkhawatirkan bagi Gedung Putih adalah suara pemilih independen.
Sekitar enam dari 10 responden independen –kelompok yang sering kali menjadi penentu dalam pemilu– menyatakan tidak setuju dengan langkah Trump dan menentang eskalasi militer di Timur Tengah.
Perpecahan ini tidak hanya berhenti di level akar rumput, tetapi juga membakar ruang sidang di Capitol Hill.
Para anggota parlemen dari Partai Demokrat melancarkan kritik tajam dengan dua argumen utama:
Bagi para pengkritik, langkah Trump dianggap sebagai petualangan militer yang ceroboh dan berisiko menyeret Amerika ke dalam perang panjang yang tak berujung.
Di sisi lain, kubu Republik tetap bersikukuh bahwa tindakan tegas diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan sekutu utama mereka, Israel.
Kini, dengan angka penolakan yang menembus angka 56 persen, Trump tidak hanya berperang melawan rudal-rudal Iran di medan tempur, tetapi juga harus berjuang memenangkan kembali kepercayaan rakyatnya sendiri di dalam negeri.
Sumber: Inilah