WARTADEMOKRASI.COM – Derita rakyat Palestina di Jalur Gaza seolah tak ada ujungnya.
Bukan sekadar krisis kelaparan atau genosida biasa, wilayah kantong yang terkepung ini kini resmi menghadapi krisis yatim piatu terbesar dalam catatan sejarah modern.
Sebanyak 40.000 anak terpaksa menelan pil pahit kehilangan salah satu atau bahkan kedua orang tua mereka.
Ini adalah imbas langsung dari kebiadaban mesin perang yang terus beroperasi tanpa henti selama dua tahun terakhir.
Fakta menyayat hati ini diungkapkan langsung oleh Organisasi Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).
Puluhan ribu nyawa tak berdosa ini kini harus bertahan hidup dalam bayang-bayang tekanan psikologis dan fisik yang ekstrem, terjebak di tengah reruntuhan infrastruktur kota yang nyaris rata dengan tanah.
Juru bicara regional UNICEF, Saleem Oweis, membeberkan realitas lapangan yang jauh lebih mengerikan.
Dari puluhan ribu anak tersebut, lebih dari 3.000 di antaranya berstatus yatim piatu penuh—kehilangan ayah dan ibu secara bersamaan.
Tragedi ini memunculkan fenomena pilu: anak-anak yang seharusnya masih asyik bermain, mendadak dipaksa menjadi ‘kepala keluarga’ yang harus mengasuh saudara kandung mereka sendirian.
“Angka resmi ini bahkan belum mencerminkan skala tragedi yang sebenarnya. Kami terus berupaya menyatukan kembali anak-anak ini dengan keluarga besar mereka dan memberikan dukungan psikologis. Namun, jujur saja, kebutuhan di lapangan saat ini jauh melampaui kapasitas dan kemampuan kami,” tegas Oweis kepada Al Jazeera, Jumat (20/2/2026).
Krisis ini tak berhenti pada hilangnya nyawa dan keluarga; masa depan generasi penerus Gaza juga ikut direnggut paksa.
Sektor pendidikan lumpuh total. Konsultan Media UNRWA, Adnan Abu Hasna, membeberkan data yang fantastis: 94 persen bangunan sekolah di Jalur Gaza telah hancur lebur akibat pengeboman.
Kini, sekitar 300 ribu anak terpaksa menggantungkan asa pendidikan mereka di tenda-tenda darurat atau sekolah sementara.
Ironisnya, proses belajar-mengajar ini harus berjalan terseok-seok dengan akses alat tulis, buku, dan pakaian yang sangat minim.
Penderitaan mereka kian lengkap manakala suhu ekstrem musim dingin mulai menusuk tulang.
Sejak invasi besar-besaran pecah pada Oktober 2023, anak-anak yatim piatu di Gaza bukan sekadar kehilangan sosok pelindung utama.
Ratusan ribu dari mereka harus menyambung hidup dengan cacat fisik permanen dan luka batin yang entah kapan bisa disembuhkan.
Mereka terus menjadi saksi bisu dari diamnya dunia atas hancurnya ruang hidup di tanah Palestina.
Sumber: Inilah