WARTADEMOKRASI.COM – Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan.
Meski kedua pihak sempat menemukan titik temu dalam sejumlah isu, perbedaan pada beberapa poin krusial membuat negosiasi tidak mencapai hasil akhir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut masih adanya perbedaan pandangan dalam isu-isu penting yang menjadi penghambat utama.
“Kami mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan,” kata Baghaei seperti dikutip kantor berita Mehr, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut terkait isu penting yang masih menjadi ganjalan kedua pihak.
Pembicaraan tersebut berlangsung pada Sabtu (11/4), beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Teheran.
Namun, upaya diplomasi lanjutan itu tidak membuahkan hasil.
Pada Minggu (12/4), Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi negaranya memastikan bahwa perundingan panjang tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.
Ia menegaskan bahwa delegasi AS kembali ke negaranya tanpa membawa hasil konkret dari perundingan tersebut.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan,” ujarnya.
Sejumlah isu strategis menjadi pembahasan dalam perundingan, termasuk Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Perbedaan pandangan terkait hal-hal tersebut disebut menjadi pemicu kebuntuan.
Dikutip dari Kantor Berita Tasnim, Iran tetap bersikeras mempertahankan kehadiran militernya di Selat Hormuz.
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa pihak Iran menekankan pentingnya pemenuhan hak-hak rakyatnya dalam setiap kesepakatan.
“Para negosiator dari pihak Iran juga menekankan perlunya upaya untuk memastikan hak-hak rakyat Iran,” demikian laporan tersebut.
Dari sisi Amerika Serikat, Vance menyoroti isu nuklir sebagai titik utama perbedaan.
Washington, kata dia, menuntut komitmen tegas dari Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun kemampuan pendukungnya.
“Faktanya sederhana, kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir,” kata Vance.
Sebelumnya, kedua negara juga sempat menempuh jalur diplomasi tidak langsung pada Februari lalu dengan melibatkan pihak ketiga.
Perundingan saat itu diwakili utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Di tengah kebuntuan negosiasi, Amerika Serikat dan Israel kemudian melancarkan serangan ke Iran yang memicu konflik terbuka di kawasan Timur Tengah.
Dalam perundingan terbaru ini, Iran meminta agar delegasi Amerika Serikat dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance.
Sementara itu, Kushner dan Witkoff tetap terlibat dalam tim di bawah koordinasi Vance.
Sumber: Inilah