Siasat ‘Murah Meriah’ Iran: Kuras Rudal Patriot AS Senilai Rp67 Miliar Pakai Drone Seharga Avanza

WARTADEMOKRASI.COM – Perang bukan sekadar adu nyali, tapi adu isi kantong dan logistik.

Memasuki hari-hari krusial pertempuran antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, sebuah anomali militer terjadi di langit Timur Tengah.

Iran secara cerdik menerapkan strategi pelemahan (attrition strategy) dengan menghujani pangkalan militer dan infrastruktur sipil menggunakan ‘pasukan’ drone murah jenis Shahed-136.

Hingga Selasa (3/3/2026), drone jelajah sederhana ini terus menjadi momok bagi sistem pertahanan udara Barat.

Logikanya sederhana namun mematikan: Iran memaksa AS mengeluarkan biaya selangit untuk menjatuhkan target yang harganya ‘recehan’.

Ketimpangan Biaya yang Menyesakkan

Sistem pertahanan udara Patriot buatan Lockheed Martin memang jempolan dengan tingkat intersepsi di atas 90 persen.

Namun, kalkulator militer menunjukkan angka yang tidak masuk akal.

Untuk menjatuhkan satu unit drone Shahed seharga US$20.000 (sekitar Rp337 juta), AS harus meluncurkan satu rudal Patriot PAC-3 yang dibanderol US$4 juta atau setara Rp67,5 miliar.

Bayangkan, satu rudal pencegat AS setara dengan harga ratusan kali lipat dari drone Iran.

“Strategi pelemahan ini masuk akal secara operasional bagi Iran,” ujar Kelly Grieco, peneliti senior Stimson Centre.

Teheran bertaruh bahwa kemauan politik negara-negara Teluk akan runtuh sebelum persediaan drone mereka habis.

Krisis Amunisi di Ambang Mata

Siapa yang bertahan paling lama, dialah pemenangnya. Namun, data menunjukkan napas pertahanan sekutu AS mulai tersengal-sengal.

Analisis internal yang bocor menyebutkan persediaan rudal Patriot milik Qatar diprediksi hanya bertahan empat hari lagi jika intensitas serangan tak menurun.

Hal inilah yang membuat Doha secara gerilya mendesak penghentian konflik.

Di sisi lain, Iran diperkirakan masih menyimpan ‘tabungan’ 2.000 rudal balistik dan ribuan drone Shahed.

Apalagi, Rusia dilaporkan mampu menyuplai drone ini dengan kecepatan ratusan unit per hari.

Bandingkan dengan produksi rudal PAC-3 milik AS yang hanya mencapai 600 unit sepanjang tahun 2025.

Jika ribuan pencegat sudah ditembakkan sejak Sabtu lalu (28/2/2026), maka gudang amunisi sekutu di Timur Tengah kini berada di zona merah.

Lumpuhnya Pertahanan Udara Iran

Meski menang di perang drone, Iran babak belur di kandang sendiri.

Serangan pembuka Israel dan AS telah melumpuhkan baterai rudal S-300 buatan Rusia yang menjadi andalan Teheran.

Akibatnya, jet tempur AS dan Israel kini bisa melenggang bebas di ruang udara Iran tanpa hambatan berarti.

AS kini mulai memutar otak dengan menggunakan jet tempur yang dilengkapi sistem Advanced Precision Kill Weapon System (APWS) yang lebih murah untuk menjatuhkan drone.

Israel pun tengah menyiapkan laser Iron Beam untuk menekan biaya intersepsi, meski sistem ini dilaporkan belum terjun ke medan laga.

Pertempuran kini berada pada titik jenuh. Peneliti senior Carnegie Endowment, Ankit Panda, memprediksi hasil akhir 60 jam pertama perang ini: amunisi kedua belah pihak akan menipis drastis, menyebabkan kebuntuan militer, sementara rezim Iran mungkin tetap utuh di tengah kekacauan logistik yang melanda.

Sumber: Inilah

Kamu mungkin suka