Siapa Reza Pahlavi Yang Menyebut Kematian Khamenei Jadi Awal ‘Keruntuhan’ Rezim Teheran?

WARTADEMOKRASI.COMKematian Ayatollah Ali Khamenei pasca-serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu, memicu reaksi keras dari luar negeri.

Salah satu suara paling lantang datang dari Reza Pahlavi, putra mahkota Iran di pengasingan.

Bagi Pahlavi, tewasnya Khamenei bukan sekadar kehilangan pemimpin, melainkan akhir de facto dari sistem pemerintahan Republik Islam Iran.

Tak tanggung-tanggung, Pahlavi langsung mengarahkan bidikannya kepada aparat keamanan di Iran.

Ia menyerukan agar militer dan penegak hukum segera ‘angkat kaki’ dan berhenti membela rezim yang menurutnya tengah berada di ujung tanduk.

“Setiap upaya untuk melindungi rezim yang sedang runtuh ini hanya akan berakhir sia-sia,” tegas Pahlavi dalam pernyataannya, dikutip Senin (2/3/2026).

Ia juga mendesak organisasi keamanan Iran untuk membelot dan berpihak pada rakyat ketimbang mempertahankan kekuasaan yang ia sebut sedang karam.

Siapa Sebenarnya Reza Pahlavi?

Bagi generasi muda Iran, nama Pahlavi mungkin terasa seperti lembaran sejarah yang jauh. Namun bagi pendukung monarki, ia adalah simbol harapan.

Reza Pahlavi adalah putra sulung dari Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi.

Lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960, hidupnya sejak kecil sudah dipersiapkan untuk meneruskan takhta legendaris, ‘Takhta Merak’.

Nasib Pahlavi berubah total pada 1979. Saat Revolusi Islam meletus dan meruntuhkan monarki ayahnya yang didukung Barat, Reza sedang berada di Texas, Amerika Serikat, untuk menjalani pelatihan pilot tempur di Pangkalan Angkatan Udara Reese.

Revolusi itu tak hanya mengganti sistem politik Iran, tapi juga membuat keluarga Pahlavi kehilangan kewarganegaraan dan terpaksa hidup berpindah-pindah di pengasingan.

Tragedi dan Ambisi di Pengasingan

Hidup di pengasingan tidaklah mudah bagi sang putra mahkota.

Setelah ayahnya wafat karena kanker di Mesir, Reza Pahlavi menjadi kepala simbolis dinasti yang kian menyusut pengaruhnya.

Tragedi keluarga pun terus membayang; adik perempuan dan laki-lakinya mengakhiri hidup mereka sendiri di masa pengasingan, meninggalkan beban sejarah sepenuhnya di pundak Reza.

Pada tahun 1980, di Kairo, ia sempat mengadakan upacara penobatan simbolis yang menyatakan dirinya sebagai Shah Iran yang baru.

Sejak saat itu, ia tak henti membangun koalisi oposisi, termasuk meluncurkan Dewan Nasional Iran untuk Pemilu Bebas pada 2013, meski upaya-upaya tersebut kerap terganjal perpecahan internal di kalangan oposisi.

Diplomasi Kontroversial dan Kedekatan dengan Israel

Reza Pahlavi yang kini menetap di pinggiran Washington DC bersama istrinya, Yasmine, dan ketiga putrinya, terus memainkan kartu diplomasi internasional.

Langkahnya yang paling fenomenal terjadi pada 2023, ketika ia melakukan kunjungan bersejarah ke Israel dan bertemu Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.

Kunjungan itu membelah opini warga Iran. Sebagian melihatnya sebagai langkah pragmatis untuk menggulingkan rezim Teheran, sementara sebagian lainnya menganggap Pahlavi terlalu jauh melangkah dengan mendekat ke musuh bebuyutan Iran, yang berisiko menjauhkan dukungan dari dunia Arab.

Kini, dengan tewasnya Ali Khamenei di tangan serangan AS-Israel, dunia menunggu: Apakah seruan Pahlavi agar militer Iran membelot akan menjadi kenyataan, ataukah ia akan tetap menjadi ‘Shah tanpa mahkota’ di pinggiran Washington?

Sumber: Inilah

Kamu mungkin suka