Rocky Gerung: Ketergantungan Pada ‘Buzzer’ Jadi Kesalahan Jokowi!

WARTADEMOKRASI.COM – Pengamat politik Rocky Gerung mengurai apa yang ia sebut sebagai pola pikir Presiden Joko Widodo dalam menghadapi situasi politik pasca-kekuasaan.

Menurut Rocky, kegelisahan Presiden tidak bisa dilepaskan dari upaya mempertahankan pengaruh melalui anaknya, Gibran Rakabuming Raka.

Rocky menilai Jokowi berusaha terus mengendalikan keadaan karena realitas politik tidak berjalan sesuai harapan awal.

Gibran, kata dia, dinilai tidak menunjukkan kapasitas yang cukup untuk menjadi figur pemimpin nasional dan justru menjadi sasaran ejekan publik di media sosial.

“Di situ Jokowi mulai gelisah. Ini gejala post power syndrome—keinginan untuk tetap berkuasa dengan cara meneruskan kekuasaan,” ujar Rocky.

Ia menyebut, dalam kondisi tersebut, Jokowi kemudian memilih menggunakan buzzer untuk membangun citra politik, baik untuk Gibran maupun Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Menurut Rocky, keputusan memakai buzzer bukan persoalan utama.

Yang menjadi kesalahan fatal, kata dia, adalah ketergantungan pada buzzer yang berorientasi materi.

“Kesalahan pertama Jokowi adalah menyewa buzzer yang ketagihan amplop,” tegasnya.

Rocky bahkan menyebut buzzer tidak berkepentingan melihat Presiden dalam kondisi sehat dan tenang. Alasannya sederhana: kegelisahan Presiden justru menjadi sumber penghidupan mereka.

“Kalau Jokowi sehat, buzzer kehilangan pekerjaan,” ucapnya.

Ia kemudian menyinggung isu restorative justice yang melibatkan sejumlah tokoh publik.

Menurut Rocky, jika perkara benar-benar selesai melalui mekanisme tersebut, maka arus kepentingan ekonomi di sekitar kekuasaan justru terhenti.

“Artinya dompet buzzer kering lagi,” kata Rocky.

Rocky menyebut kelompok yang ia istilahkan sebagai “Termul” justru diuntungkan dari kondisi tersebut.

Mereka, kata dia, membiarkan Presiden tetap terjebak dalam hasrat mempertahankan kekuasaan, meski sadar bahwa ambisi itu sulit diwujudkan melalui Gibran.

“Dari segi apa pun Gibran tidak mungkin melanjutkan hasrat itu. Apalagi kalau nanti harus berhadapan dalam duel argumentasi politik,” ujarnya.

Ia menilai, situasi itu justru membuat Presiden semakin tidak tenang.

Alih-alih memulihkan keadaan batin, berbagai manuver politik dan konflik yang terus muncul malah membuka kembali persoalan lama.

Rocky juga menyinggung kondisi kesehatan Jokowi yang kerap menjadi sorotan.

Menurutnya, faktor psikologis sangat berpengaruh.

“Kalau Jokowi seminggu saja berhenti melihat media sosial, saya yakin gejalanya mereda,” ujarnya.

Namun, kata Rocky, akar persoalan bukan semata media sosial, melainkan kecemasan tentang masa depan politik Gibran yang diharapkan dapat melindungi masa lalu kekuasaan Jokowi.

“Kalau ada kebijaksanaan datang pada Jokowi, dia seharusnya sadar bahwa sumber kegelisahannya adalah ambisi itu sendiri,” pungkas Rocky.

Sumber: RakyatDaily

Kamu mungkin suka