WARTADEMOKRASI.COM – Seif Al-Islam Khadafi, putra mendiang pemimpin Libya, Muammar Khadafi, tewas dibunuh di kediamannya di Zintan pada Selasa, 3 Februari 2026.
Kematiannya dikonfirmasi oleh penasihat pribadi dan keluarganya, menambah daftar panjang kekerasan di negara yang masih terpecah itu.
Menurut Abdullah Othman Abdurrahim, penasihat pribadi almarhum, peristiwa itu terjadi dengan cepat dan penuh perhitungan. Empat pria bersenjata, yang wajahnya tak dikenal, dikatakan lebih dulu melumpuhkan sistem kamera pengawas.
Setelah itu, dengan leluasa mereka masuk dan mengeksekusi Seif Al-Islam di dalam rumahnya sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, motif dan identitas para pelaku belum terungkap.
Jaksa Libya sendiri telah mengirim tim forensik ke lokasi kejadian di Zintan, sebuah wilayah di barat laut Libya, untuk memulai penyelidikan.
Pengacaranya, Marcel Ceccaldi, memberikan kronologi yang serupa kepada AFP.
Ia menegaskan kliennya menjadi korban sebuah operasi yang terencana.
“Dia (Saif) dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando,” tuturnya.
Di sisi lain, reaksi internasional mulai berdatangan.
Rusia, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova, menyuarakan kecaman keras atas pembunuhan tersebut.
Pemerintah Moskow tampaknya mendesak transparansi dan keadilan dalam proses hukumnya.
“Kami mengecam keras kejahatan ini. Kami berharap akan dilakukan penyelidikan menyeluruh dan para pelaku dibawa ke hadapan hukum,” jelasnya seperti dikutip AFP pada Kamis (5/2/2026).
Kematian Seif Al-Islam ini tentu membuka luka lama.
Ia pernah menjadi sosok sentral dalam pergolakan Libya pasca-2011, figur yang kontroversial namun tak bisa dipisahkan dari sejarah negeri itu.
Kini, di tengah kabut misteri motif pembunuhannya, yang tersisa adalah pertanyaan besar dan sebuah penyelidikan yang hasilnya masih harus ditunggu.
Putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, Saif Al Islam Khadafi, tewas dibunuh oleh geng bersenjata di Kota Zintan pada Senin (2/2).
Berdasarkan laporan kantor berita Libyan News Agency, kematian pria 53 tahun pernah secara luas dipandang sebagai pewaris politik ayahnya ini dikonfirmasi oleh kepala tim politiknya pada Selasa (3/2).
Kepada AFP, Pengacara Saif dari Prancis Marcel Ceccaldi mengatakan pembunuhan kliennya dilakukan oleh sebuah “unit komando beranggotakan empat orang” yang menyerbu kediamannya di Kota Zintan.
“Dia (Seif) dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando,” ucap Ceccaldi.
Koresponden Al Jazeera Arabic di Libya, Ahmed Khalifa, mengatakan pada Selasa bahwa Saif ditembak mati.
Versi lain disampaikan oleh saudara perempuannya, yang mengatakan kepada televisi Libya bahwa Saif meninggal di dekat perbatasan Libya dengan Aljazair.
Media Libya melaporkan kamera pengawas di lokasi dimatikan sebelum serangan berlangsung. Namun, hingga kini belum jelas siapa pihak yang berada di balik serangan itu.
Detail seputar pembunuhan Saif juga masih belum jelas dan otoritas Libya pun belum mengeluarkan konfirmasi resmi.
Milisi Brigade Tempur 444 secara tegas membantah keterlibatan dalam insiden ini.
Sementara itu, kantor Jaksa Agung Libya telah membuka penyelidikan atas pembunuhan tersebut, menurut media setempat.
Saif tidak pernah memegang jabatan resmi di Libya, tetapi sejak 2000 hingga 2011 ia dianggap sebagai orang nomor dua setelah ayahnya.
Saif dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dan paling ditakuti di Libya setelah ayahnya, yang berkuasa sejak 1969 hingga digulingkan dan tewas oleh serangan NATO selama pemberontakan pada 2011.
Ia pernah ditangkap dan dipenjara di Zintan pada 2011 saat berusaha melarikan diri dari Libya setelah oposisi menguasai Tripoli.
Dia lalu dibebaskan pada 2017 sebagai bagian dari pemberian amnesti umum.
Saif menghadapi berbagai tuduhan penyiksaan dan kekerasan ekstrem terhadap para penentang rezim ayahnya.
Pada Februari 2011, namanya masuk dalam daftar sanksi PBB dan ia dilarang bepergian.
Ia juga menjadi buronan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Libya pada 2011.
Sumber: Fajar