Perbandingan Diplomasi Prabowo, Soekarno, dan Jokowi Dalam Politik Luar Negeri Indonesia

Diplomasi Sebagai Cermin Kepemimpinan Nasional

Oleh: Benz Jono Hartono | Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, Executive Director HIAWATHA Institute

Pembukaan

Diplomasi bukan sekadar hubungan antarnegara. Ia adalah refleksi cara sebuah bangsa melihat dirinya di dunia. Sejak kemerdekaan, Indonesia mengalami tiga model diplomasi yang berbeda yaitu, idealisme revolusioner, pragmatisme ekonomi, dan kini potensi realisme strategis.

Perbandingan antara Soekarno, Joko Widodo, dan Prabowo Subianto menunjukkan bagaimana perubahan geopolitik global membentuk arah politik luar negeri Indonesia.

Soekarno Diplomasi Ideologis dan Revolusioner

Pada era Soekarno, diplomasi Indonesia bersifat ideologis dan berani. Indonesia tampil sebagai pemimpin dunia negara yang baru berkembang.

Ciri utama diplomasi Soekarno adalah:

1. Anti-kolonialisme global
Indonesia aktif melawan imperialisme dan mendukung kemerdekaan negara Asia-Afrika.

2. Politik nonblok sebagai alat perjuangan
Bersama Josep Broz Tito dan Jawaharlal Nehru, Indonesia menjadi pelopor Non-Aligned Movement.

3. Diplomasi panggung dunia
Pidato dan simbolisme menjadi senjata. Indonesia membangun citra moral di dunia.

Muncul kekuatan:
-Pengaruh global besar
-Legitimasi moral tinggi
-Kepemimpinan Global South

Kelemahannya:
-Ekonomi domestik lemah
-Terlalu konfrontatif
-Rentan tekanan geopolitik

Jokowi Diplomasi Ekonomi dan Stabilitas

Era Jokowi menandai perubahan drastis dari ideologi menuju pragmatisme ekonomi.

Ciri utama diplomasi Jokowi:

1. Fokus investasi dan pembangunan
Diplomasi diarahkan untuk menarik modal, teknologi, dan perdagangan.

2. Stabilitas dan moderasi
Indonesia menjaga hubungan dengan semua kekuatan tanpa konflik terbuka.

3. Multilateral yang pragmatis
Peran di G20 dan ASEAN menjadi sarana kepentingan ekonomi.

Muncul Kekuatan:
Stabilitas politik luar negeri
Relevan dengan globalisasi
Mendukung pembangunan domestik

Kelemahannya:
Pengaruh global menurun
Kurang visi ideologis
Terlihat pasif dalam konflik global

Prabowo Diplomasi Realis dan Kekuatan Negara

Era Prabowo berpotensi menjadi fase baru, kombinasi idealisme nasional dengan realisme geopolitik.

Ciri utama yang diperkirakan:

1. Diplomasi pertahanan dan keamanan
Sebagai mantan Menteri Pertahanan, fokus pada kekuatan militer dan keamanan regional.

2. Kemandirian strategis
Indonesia menjaga jarak dari blok global, tetapi meningkatkan daya tawar.

3. Nasionalisme ekonomi dan geopolitik
Memanfaatkan sumber daya untuk posisi global.

Kekuatannya:
Pendekatan realistis
Adaptif terhadap konflik modern
Fokus pada kedaulatan
Risiko dengan
Potensi militerisasi diplomasi
Tekanan dari kekuatan besar
Ujian konsistensi bebas aktif

Perbedaan Kunci Ideologi, Ekonomi, dan Kekuatan

Aspeknya
-Soekarno
-Jokowi
-Prabowo

Basis
-Ideologi
-Ekonomi
-Kekuatan,

Tujuan
-Anti kolonial
-Pembangunan
-Kemandirian

Gaya
-Retoris
-Pragmatis
-Realistis

Fokus
Global South
Investasi
Strategi geopolitik

Tantangan
Ekonomi
Pengaruh global
Tekanan berbagai blok

Tantangannya Sama Elite dan Kepentingan Nasional

Namun ada satu kesamaan yaitu,
Semua presiden menghadapi struktur domestik yang sama:
-oligarki,
-kepentingan bisnis, -tarik-menarik elite.

Diplomasi seringkali tidak murni demi rakyat, tetapi dipengaruhi oleh:

-Akses sumber daya
-Proyek strategis
-Kepentingan kelompok ekonomi

Inilah dilema politik luar negeri Indonesia sejak kemerdekaan.

Masa Depan Diplomasi Indonesia

Indonesia berada di persimpangan sejarah karena:

-Jika hanya pragmatis, Indonesia akan menjadi pasar global.

-Jika hanya ideologis, Indonesia berisiko diisolasi.

-Jika realistis dan strategis,
Indonesia bisa menjadi kekuatan Global South.

Kunci keberhasilan bukan hanya pada presiden, tetapi pada kontrol rakyat terhadap negara.

Penutup

Diplomasi Indonesia adalah perjalanan panjang dari moralitas, pragmatisme, menuju realisme.

  • Soekarno membangun panggung.
  • Jokowi membangun fondasi ekonomi.
  • Prabowo berpotensi membangun kekuatan.

Namun pertanyaan terbesar tetap sama yaitu, Apakah diplomasi Indonesia benar-benar untuk rakyat, atau hanya untuk kepentingan elite? ***

Kamu mungkin suka