WARTADEMOKRASI.COM – Dunia Islam di Amerika Serikat dikejutkan oleh aksi kekerasan yang menyasar tokoh agama.
Imam Shuaib Din, pemimpin spiritual Utah Islamic Center, baru saja lolos dari maut setelah kendaraan yang dikemudikannya diberondong tembakan oleh orang tak dikenal di Sandy, West Jordan, Senin (23/2/2026) malam waktu setempat.
Insiden mencekam ini terjadi sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Saat itu, Imam Shuaib tengah berkendara di dekat persimpangan 700 West dan 9000 South.
Tanpa peringatan, sebuah mobil misterius membuntuti dan melepaskan rentetan peluru.
Sedikitnya tujuh hingga delapan tembakan menghujam mobil sang Imam.
“Atas rahmat dan perlindungan Allah SWT, beliau tidak mengalami cedera,” tulis pernyataan resmi Utah Islamic Center melalui akun Facebook mereka.
Meski mobilnya hancur terkena peluru, Imam Shuaib Din dinyatakan selamat tanpa luka sedikit pun.

Kepolisian Sandy kini bergerak cepat. Sersan Michael Olsen mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mendalami segala kemungkinan, termasuk indikasi kejahatan bermotif kebencian (hate crime).
Mengingat sensitivitas kasus ini, Federal Bureau of Investigation (FBI) pun dilibatkan untuk memburu pelaku yang hingga kini masih buron.
Aparat telah merilis foto kendaraan tersangka, sebuah mobil berwarna abu-abu atau perak yang terekam di lokasi kejadian.
Namun, hingga berita ini diturunkan, identitas pelaku masih gelap.
Geram dengan aksi pengecut ini, Council on American-Islamic Relations (CAIR) langsung bereaksi.
Organisasi pembela hak Muslim di AS ini mengumumkan sayembara dengan hadiah sebesar US$5.000 (sekitar Rp78 juta) bagi siapa saja yang memberikan informasi hingga pelaku tertangkap dan divonis.

Penembakan ini terasa semakin menyesakkan karena terjadi di tengah bulan suci Ramadan—saat masjid-masjid dipenuhi jamaah untuk beribadah.
Wali Kota Sandy, Monica Zoltanski, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian ini.
“Sangat meresahkan. Kejadian ini berlangsung di bulan Ramadan, waktu yang seharusnya penuh kedamaian dan refleksi bagi umat Islam,” ujar Zoltanski.
Dukungan lintas agama pun mengalir. United Jewish Federation of Utah menyatakan solidaritas penuh dan menegaskan bahwa tidak boleh ada individu yang merasa takut beribadah karena identitasnya.
Sementara itu, Partai Demokrat Utah menyebut insiden ini sebagai serangan langsung terhadap nilai-nilai kebebasan warga.
Pasca-insiden, pengamanan di sekitar Utah Islamic Center ditingkatkan secara drastis.
Kepolisian West Jordan telah menambah personel patroli untuk menjamin keamanan jamaah yang hendak melaksanakan salat Tarawih dan aktivitas Ramadan lainnya.
Pihak masjid meminta komunitas Muslim tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh spekulasi yang beredar.
Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan imam dan seluruh jamaah sambil menunggu hasil investigasi menyeluruh dari penegak hukum.
Dunia kini menanti ketegasan hukum di Amerika Serikat: apakah ini murni kriminalitas jalanan, ataukah Islamofobia kembali menunjukkan wajah buruknya di tengah bulan suci?
Sumber: Inilah