DEMOCRAZY.ID – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mendadak memicu kegaduhan di panggung intelijen global.
Tak ada angin tak ada hujan, Larijani melontarkan tudingan serius: Iran diduga sedang ditargetkan untuk menjadi ‘kambing hitam’ dalam sebuah rencana serangan terorisme besar yang meniru tragedi 11 September (9/11).
Lebih mengejutkan lagi, Larijani menyeret nama jaringan mendiang predator seksual AS, Jeffrey Epstein, dalam konspirasi ini.
Ia menyebut sisa-sisa anggota jaringan tersebut tengah merancang skenario berdarah untuk menyudutkan Teheran di mata dunia.
“Saya mendengar bahwa anggota Jeffrey Epstein yang masih tersisa telah menyusun konspirasi untuk menciptakan insiden serupa 9/11, yang kemudian bertujuan menyalahkan Iran,” tegas Larijani sebagaimana dikutip dari laman X @BRICSinfo, Senin (16/3/2026).
Di tengah tensi yang mendidih antara Teheran dan Washington, Larijani mencoba mendinginkan suasana dengan menegaskan posisi dasar negaranya.
Ia menyatakan bahwa Iran secara prinsipil menolak segala bentuk skema terorisme, apalagi yang menargetkan warga sipil.
“Iran pada dasarnya menolak skema teroris seperti itu. Kami tidak memiliki perang dengan rakyat Amerika,” ujarnya, mencoba memisahkan antara konflik politik antar-pemerintah dengan hubungan kemanusiaan.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global akan adanya operasi false flag (bendera palsu) yang bisa memicu perang terbuka lebih luas di Timur Tengah, terutama pasca-serangan bertubi-tubi yang dialami Iran belakangan ini.
Disinggungnya tragedi 9/11 oleh Larijani tentu bukan tanpa alasan.
Peristiwa 11 September 2001 adalah trauma terdalam Amerika Serikat yang mengubah peta geopolitik dunia selamanya.
Berikut adalah pengingat betapa mengerikannya tragedi yang kini disebut Larijani akan direplikasi untuk menjebak negaranya:
Tudingan Larijani soal keterlibatan ‘sisa-sisa jaringan Epstein’ menambah bumbu spekulasi dalam konflik AS-Iran yang kian kompleks.
Meski terdengar seperti teori konspirasi, dalam dunia intelijen Timur Tengah, pernyataan pejabat setingkat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional jarang sekali bersifat main-main.
Apakah ini murni peringatan dini untuk mencegah serangan nyata, ataukah sekadar manuver diplomasi Teheran untuk menarik simpati publik Amerika?
Satu yang pasti, bayang-bayang tragedi 9/11 kembali menghantui narasi keamanan dunia hari ini.
Sumber: Inilah