Licik! Israel Terus Gempur Lebanon, Netanyahu Sebut Gencatan Senjata Tak Berlaku di Situ

WARTADEMOKRASI.COM – Langit selatan Lebanon kembali dipenuhi dentuman.

Hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, militer Israel justru melancarkan gelombang serangan udara ke wilayah Tyre dan Nabatieh, Rabu pagi waktu setempat.

Pesan yang tersirat jelas: kesepakatan itu tidak mencakup Lebanon.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan hal tersebut dengan menolak klaim bahwa perjanjian damai yang dimediasi Pakistan ikut meredakan konflik dengan kelompok bersenjata Hezbollah.

Di lapangan, bom tetap jatuh, dan warga sipil kembali menjadi korban.

Sejak eskalasi terbaru pecah, lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas, termasuk 130 anak-anak.

Angka pengungsian melonjak tajam—lebih dari 1,2 juta orang, atau satu dari lima penduduk Lebanon, terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Desa-desa di perbatasan selatan luluh lantak, sebagian rata dengan tanah.

Operasi militer Israel disebut bertujuan membentuk “zona penyangga keamanan” dengan menghancurkan infrastruktur Hezbollah dan mendorong pasukannya menjauh dari perbatasan.

Namun, strategi ini memicu kekhawatiran baru: wilayah-wilayah tersebut berpotensi diduduki lebih lama, dan ribuan warga mungkin tak pernah kembali.

Konflik ini sendiri dipicu oleh rentetan serangan balasan.

Hezbollah menembakkan roket ke wilayah Israel setelah kematian Ali Khamenei di fase awal perang, sekaligus merespons serangan harian Israel yang terus berlangsung meski gencatan senjata lokal sebelumnya telah disepakati pada November 2024.

Di tengah kehancuran, kondisi kemanusiaan memburuk drastis. Sekolah-sekolah berubah menjadi tempat penampungan darurat.

Tenda-tenda berdiri di ruang publik. Sebagian warga bahkan tidur di dalam mobil.

Ketegangan sektarian meningkat seiring perpindahan besar-besaran penduduk antarwilayah.

Pemerintah Lebanon mencoba membuka jalur diplomasi.

Presiden Joseph Aoun bahkan menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi langsung dengan Israel—langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya mengingat kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun hingga kini, tawaran itu belum mendapat respons.

Di sisi lain, Hezbollah tetap menjadi kekuatan yang sulit dipatahkan.

Meski kerap dikritik karena dianggap menyeret Lebanon ke dalam konflik, kelompok ini masih memiliki basis dukungan kuat, khususnya di komunitas Syiah.

Perang yang berlapis kepentingan ini kini menciptakan paradoks: ketika satu konflik mencoba diredam lewat diplomasi, konflik lain justru menyala di titik berbeda.

Gencatan senjata di atas kertas tak serta-merta menghentikan dentuman di lapangan.

Di Lebanon selatan, perang masih berbicara dengan bahasa yang sama—ledakan, asap, dan kehilangan.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka