Konflik Iran-Israel dan Nubuat Al-Qur’an, Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat!

WARTADEMOKRASI.COMKetegangan antara Iran dan Israel yang kini melibatkan Amerika Serikat kembali memantik perbincangan luas di ruang publik.

Sebagian umat bertanya, apakah eskalasi ini sekadar konflik geopolitik, atau justru bagian dari rangkaian peristiwa besar yang telah diisyaratkan dalam kitab suci?

Dalam sebuah kajian yang tayang di kanal YouTube Santri Ngaji Online, Ustaz Adi Hidayat membahas konflik tersebut dari sudut pandang Al-Qur’an dan sejarah panjang Bani Israil.

Ia menekankan bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan karakter dan pola perilaku generasi tertentu yang berulang dalam sejarah.

Ustaz Adi Hidayat mengutip Surah Al-Isra ayat 4–7 yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali dalam skala besar.

Menurutnya, para ulama tafsir klasik hingga kontemporer telah membahas dua fase tersebut sebagai kerusakan global, bukan sekadar lokal.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan pertama ditandai dengan penyimpangan internal yang berujung pada pembunuhan para nabi, termasuk Nabi Zakaria dan Nabi Yahya.

Bahkan, Nabi Isa pun disebut dikejar untuk dibunuh.

“Kerusakan itu tidak mungkin terjadi kecuali dimulai dari rusaknya diri sendiri, lalu merusak keluar,” ujarnya dalam kajian tersebut.

UAH sapaan akrabnya, menyebut sejarah mencatat beberapa fase kehancuran besar yang menimpa Bani Israil, mulai dari era Jalut (Goliath), serangan Nebukadnezar dari Babilonia, hingga periode kekuasaan Romawi.

Dalam tiap fase itu, ia menilai, terjadi pola yang sama: konflik, pengusiran, dan kehancuran akibat perilaku yang dinilai melampaui batas.

Namun ia menegaskan, pemaparan tersebut bukan ajakan untuk membenci. “Al-Qur’an tidak mengajarkan kebencian.

Ia hanya menampilkan karakter secara faktual agar umat memahami dan bersikap dengan benar,” katanya.

UAH juga mengulas kemunculan gerakan Zionisme modern yang berawal dari gagasan membangun kembali Haikal Sulaiman di Bukit Zion.

Ia menyinggung deklarasi berdirinya negara Israel pada 1948 yang difasilitasi Inggris, serta peran lobi internasional yang dinilainya kuat dalam bidang ekonomi dan politik global.

Menurutnya, Al-Qur’an telah menyebut tiga kekuatan utama yang akan menopang fase tersebut: kekuatan ekonomi (bi amwal), jaringan keturunan dan relasi global (wa banin), serta dukungan luas (aksara nafira).

Ia mengaitkan ayat itu dengan realitas kontemporer, termasuk dukungan negara-negara besar terhadap Israel dalam konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, Ustaz Adi Hidayat kembali mengingatkan agar umat Islam menyikapi situasi ini dengan kedewasaan spiritual, bukan emosi.

Ia mencontohkan kepemimpinan Islam pada masa Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi yang memberi jaminan keamanan bagi berbagai komunitas, termasuk Yahudi dan Nasrani, ketika menguasai Yerusalem.

“Islam datang bukan dengan kutukan, tapi dengan solusi dan keadilan,” tegasnya.

Terkait perang Iran dan Israel/AS saat ini, UAH tidak secara eksplisit menyebutnya sebagai tanda pasti akhir zaman.

Namun ia mengingatkan bahwa pola konflik dan dukungan global terhadap satu pihak telah lama dijelaskan dalam nash.

Baginya, yang terpenting bukan berspekulasi soal kiamat, melainkan memperbaiki kualitas iman, memperkuat literasi sejarah, dan menjaga persatuan umat.

“Kalau iman benar, Allah jaga. Yang tandus bisa jadi makmur. Tapi kalau rusak, sekaya apa pun negeri itu bisa hancur,” tuturnya.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka