KISAH Keluarga Yahudi Masuk Islam Usai Lihat Penindasan Warga Palestina

WARTADEMOKRASI.COMDi antara lorong-lorong konflik yang tak kunjung reda di Timur Tengah, sebuah kisah personal muncul seperti riak kecil yang memantulkan gelombang besar sejarah.

Seorang pria berdarah Yahudi Maroko, warga negara Amerika Serikat, yang dulu dikenal keras menentang Islam, justru menempuh jalan yang tak pernah ia bayangkan—berbalik arah, memeluk keyakinan yang dulu ia benci.

Perjalanannya bermula dari keyakinan ideologis yang kuat.

Ia pernah berada di lingkaran kelompok garis keras di New York City, bahkan memimpin cabang komunitas yang dikenal radikal.

Tahun 1998, ia hijrah ke wilayah Palestina yang diduduki, membawa mimpi lama tentang “Tanah Perjanjian”.

Bersama istrinya, Luna Cohen—putri seorang rabi—ia menetap di kawasan permukiman di Jalur Gaza, sebelum kemudian berpindah ke wilayah selatan lain yang lebih tenang secara administratif.

Namun, realitas di lapangan tak selalu sejalan dengan doktrin.

Di tengah interaksinya dengan warga Palestina, ia mulai menyaksikan langsung ketimpangan dan tekanan hidup yang dialami masyarakat setempat.

Pengalaman itu perlahan menggerus keyakinan lamanya. Diskusi demi diskusi dengan seorang imam masjid membuka ruang refleksi yang sebelumnya tertutup rapat.

Rasa ingin tahu berubah menjadi pencarian. Ia mulai membaca Al-Qur’an dalam bahasa Inggris.

Dalam sunyi yang tak tercatat kamera, ia mengaku tubuhnya gemetar saat memahami isi yang dibacanya.

Titik balik itu datang tanpa seremoni besar—ia memeluk Islam dalam tangis.

Keputusan itu tak berhenti pada dirinya. Beberapa bulan kemudian, istrinya dan keempat anaknya mengikuti langkah yang sama.

Nama lama ditanggalkan, identitas baru disematkan. Ia kini dikenal sebagai Yusuf Khattab, sementara keluarganya pun mengganti nama sebagai simbol perjalanan baru.

Langkah berikutnya lebih mengejutkan. Ia menjual aset keluarga di Amerika dan mendirikan lembaga amal untuk membantu masyarakat Arab miskin di Yerusalem Timur.

Aktivitasnya menarik perhatian, sekaligus kontroversi. Dalam catatan yang beredar, belasan orang disebut mengikuti jejaknya masuk Islam.

Namun, jalan yang dipilihnya juga membawa konsekuensi.

Ia akhirnya diusir dari wilayah yang ia tempati dan melepaskan kewarganegaraan lamanya.

Tahun 2007 menjadi babak baru, ketika ia kembali ke akar asal-usulnya di Maroko, menetap di kota Tetouan.

Kini, ia hidup jauh dari sorotan utama konflik global.

Di depan salah satu masjid besar di kota itu, hidupnya berjalan lebih tenang—seolah menjadi penanda bahwa di tengah pusaran geopolitik, perubahan paling sunyi justru terjadi dalam hati manusia.

Sumber: Herald

Kamu mungkin suka