WARTADEMOKRASI.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah kini berada di titik nadir yang paling membahayakan.
Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, mengirimkan gertakan maut kepada Washington.
Ia menegaskan bahwa Teheran akan menjadi ‘ladang pembantaian’ bagi tentara Amerika Serikat (AS) jika Presiden Donald Trump nekat memerintahkan invasi darat.
Dalam pernyataan keras yang disiarkan stasiun televisi pemerintah IRIB, Kamis (2/4/2026), Hatami memastikan bahwa seluruh kekuatan militer Iran kini dalam posisi siaga penuh.
Instruksi khusus telah diturunkan kepada komando operasional untuk memantau setiap jengkal pergerakan pasukan Paman Sam.
“Jika musuh mencoba operasi darat, tidak seorang pun boleh selamat. Penting bagi kami untuk memantau pergerakan musuh dengan sangat teliti dari waktu ke waktu, dan menerapkan rencana kontra-serangan pada saat yang tepat,” tegas Hatami dengan nada dingin.
Ancaman Teheran ini bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon tengah mematangkan skenario operasi darat ke wilayah Iran.
Laporan tersebut menyebut ribuan personel tambahan telah dikerahkan ke Timur Tengah, menunggu instruksi final dari Gedung Putih.
Para pejabat militer AS mengakui bahwa rencana ini akan menandai ‘fase baru perang’ yang jauh lebih berbahaya dan berdarah dibandingkan empat pekan pertama pertempuran.
Fokus operasi darat AS disebut-sebut bakal menyasar Pulau Kharg—yang merupakan urat nadi ekspor minyak Iran—serta serangan pesisir di sekitar Selat Hormuz guna melumpuhkan ancaman Iran terhadap pelayaran energi global.
Bara peperangan ini sendiri sejatinya telah menyala sejak 28 Februari lalu, saat koalisi AS dan Israel meluncurkan serangan udara masif yang menewaskan lebih dari 1.340 orang.
Salah satu korban tewas dalam agresi tersebut adalah Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Kematian Khamenei memicu amuk Teheran. Iran membalas dengan menghujani Israel, Yordania, Irak, hingga pangkalan militer AS di negara-negara Teluk dengan ratusan drone dan rudal balistik.
Hingga saat ini, tercatat 13 tentara AS tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan balasan Iran.
Tak hanya menelan korban jiwa, konflik ini juga telah mengacak-acak stabilitas ekonomi dunia, menghancurkan rute penerbangan internasional, dan memicu krisis energi global.
“Bayang-bayang perang harus segera dihilangkan dari negara kita, dan keamanan harus ditegakkan untuk semua,” pungkas Hatami, mengisyaratkan bahwa Iran tidak akan mundur selangkah pun dalam mempertahankan kedaulatannya.
Sumber: Inilah