WARTADEMOKRASI.COM – Perlawanan dari tanah Lebanon belum habis.
Kelompok Hizbullah membuktikan taringnya dengan meluncurkan serangan masif yang melumpuhkan wilayah utara Israel pada Minggu (8/3/2026).
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 20 gelombang serangan roket dan kawanan drone tempur dikerahkan untuk menghantam titik-titik vital militer Zionis.
Langkah berani ini ditegaskan Hizbullah sebagai jawaban telak atas kebrutalan Israel yang terus membombardir puluhan kota dan desa di Lebanon, termasuk agresi pengecut di pinggiran selatan Beirut.
Hizbullah menunjukkan bahwa setiap jengkal tanah Lebanon yang terluka akan dibayar dengan serangan yang presisi di wilayah pendudukan.
The ghost of Hizbullah has rearmed regrouped and reappeared at Israel’s north. pic.twitter.com/8bppDVb3rx
— Irves (@Irves_Watch) March 7, 2026
Mengutip Anadolu Agency, salah satu target utama dalam operasi kali ini adalah kota Nahariya.
Hizbullah melaporkan telah melepas tiga gelombang serangan roket yang disusul dengan sekawanan pesawat nirawak (drone) yang menyasar konsentrasi pasukan lawan.
Menariknya, sebelum serangan dimulai, Hizbullah telah menunjukkan etika perang dengan memperingatkan warga sipil di Nahariya dan Kiryat Shmona untuk segera angkat kaki melalui pesan di Telegram.
Tak hanya Nahariya, kota pelabuhan Haifa pun tak luput dari bidikan.
Sistem pertahanan udara kebanggaan Israel, Iron Dome, di lokasi Kiryat Eliezer dilaporkan menjadi sasaran empuk.
Keberhasilan menargetkan basis pertahanan udara ini menunjukkan bahwa teknologi militer Hizbullah kian canggih dan mampu menembus celah keamanan ketat yang selama ini dibanggakan Tel Aviv.
Rekaman CCTV menunjukkan tentara Israel berupaya mendarat di Lembah Bekaa, di mana mereka dihadang dengan penyergapan yang terampil oleh pasukan Elit Radwan Hizbullah.
Informasi awal menunjukkan bahwa pasukan terjun payung dan komando tentara pendudukan mengenakan seragam… pic.twitter.com/UWPuvKHH0o
Baca Juga:— SW News – SOFT WAR NEWS (@SoftWarNews) March 7, 2026
Serangan tak berhenti di situ. Pangkalan Stella Maris dan kompleks industri militer Rafael di dekat Acre turut diguncang ledakan.
Bahkan, sebuah ‘rudal presisi’ dilaporkan meluncur sejauh 120 kilometer dari perbatasan Lebanon menuju pangkalan Tel Hashomer.
Jangkauan serangan ini menjadi sinyal merah bagi Israel bahwa tidak ada lagi zona aman bagi mereka.
Di sisi lain, militer Israel terpaksa gigit jari. Operasi pasukan khusus mereka di Lebanon timur yang bertujuan mencari sisa jasad navigator Ron Arad berakhir dengan kegagalan total.
Di tengah kegagalan operasi intelijen tersebut, Hizbullah justru kian agresif mengincar posisi militer di sekitar perbatasan, mulai dari Bukit Hamamis hingga perlintasan Gerbang Fatima.
Dunia perlu mencatat bahwa eskalasi ini merupakan akumulasi kemarahan atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan rezim Zionis sejak November 2024.
Dukungan tanpa syarat dari Amerika Serikat membuat Israel merasa di atas angin untuk terus membantai lebih dari 4.000 jiwa di Lebanon sejak konflik pecah.
Kini, dengan meningkatnya ketegangan regional akibat agresi AS-Israel terhadap Iran, Hizbullah berdiri tegak sebagai garda depan yang tak tergoyahkan.
Serangan Minggu ini adalah pesan nyata: selama agresi militer dan pendudukan terus berlangsung, maka roket dan drone perlawanan tidak akan pernah berhenti menghujani langit Israel utara.
Sumber: Inilah