DEMOCRAZY.ID – Nama keluarga Staquf kembali menjadi perbincangan nasional.
Dua putra dari keluarga ulama asal Rembang, Jawa Tengah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut.
Kembali disorot publik setelah perjalanan panjang karier keduanya bersinggungan dengan kabar hukum terbaru terkait dugaan korupsi kuota haji.
Meski berasal dari latar dan pendidikan yang sama, perjalanan dua bersaudara ini justru berbelok ke arah yang berbeda.
Satu bergerak di ruang gagasan dan diplomasi keagamaan.
Sementara yang lain memilih jalur politik dan organisasi massa sebelum akhirnya masuk ke pemerintahan.
Gus Yahya dikenal publik sejak era Presiden Abdurrahman Wahid.
Ia menjadi juru bicara Gus Dur di masa-masa sulit pemerintahan, terutama ketika dinamika politik mengarah pada pemakzulan.
Dari sanalah namanya muncul sebagai figur yang tenang, sistematis, dan terbiasa menghadapi tensi politik tinggi.
Setelah itu, ia lebih banyak bergerak di ranah pemikiran.
Kiprahnya dalam dialog antaragama, hubungan keagamaan global, hingga diplomasi kultural membawa namanya ke forum-forum internasional.
Ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada 2021, banyak yang menyebut itu sebagai puncak perjalanan panjangnya mengelola gagasan sekaligus organisasi.
Gaya kepemimpinan Gus Yahya dikenal penuh perhitungan.
Ia jarang reaktif, terbiasa menjaga jarak dari hiruk pikuk politik, dan lebih menekankan konsolidasi kelembagaan.
Karena itu pula, ketika kasus yang menjerat adiknya mencuat, ia langsung menegaskan bahwa PBNU tidak terlibat dan dirinya tidak akan mengintervensi proses hukum.
Berbeda dari sang kakak, Gus Yaqut menempuh jalan yang lebih keras dan sering bersinggungan dengan arena politik praktis.
Ia tumbuh sebagai aktivis PMII, kemudian aktif di GP Ansor dan Banser.
Nama Yaqut mulai dikenal sejak memimpin GP Ansor yang kerap terlibat dalam isu-isu sensitif keagamaan dan kebangsaan.
Karier politiknya semakin terbuka ketika ia masuk ke DPRD Rembang, berlanjut ke DPR RI, hingga akhirnya dipercaya menjabat Menteri Agama pada 2020.
Di posisi itu, Yaqut tidak lepas dari kontroversi. Mulai dari kebijakan terkait adzan hingga penertiban organisasi tertentu, langkah-langkah politiknya kerap memantik pro-kontra di masyarakat.
Kini perjalanan panjang itu kembali disorot setelah namanya disebut dalam dugaan penyimpangan distribusi kuota haji.
Kasus ini menjadi salah satu ujian terbesar sepanjang karier publiknya.
Kuasa hukum Yaqut menegaskan bahwa ia menghormati proses hukum dan akan kooperatif.
Menariknya, meski berangkat dari keluarga yang sama, karakter kepemimpinan dua saudara ini sangat berbeda.
Gus Yahya tumbuh sebagai pemikir dengan orientasi jangka panjang, sementara Yaqut lebih dikenal sebagai eksekutor cepat di lapangan yang mengambil langkah-langkah tegas.
Kini keduanya kembali dipertemukan oleh sebuah isu nasional yang menempatkan nama keluarga Staquf di tengah sorotan publik.
Bedanya, Gus Yahya berada di posisi menjaga marwah PBNU, sedangkan Yaqut harus berhadapan dengan proses hukum KPK.
Sikap Gus Yahya yang memilih tidak mencampuri urusan hukum adiknya menunjukkan garis batas yang ia bentuk antara keluarga, organisasi, dan negara.
Sikap itu pula yang membuat publik melihat bagaimana dua jalur politik keluarga Staquf tidak selalu berjalan beriringan.
Perjalanan dua bersaudara ini belum selesai. Masa depan keduanya masih akan ditentukan oleh proses hukum, dinamika organisasi, dan arah politik nasional ke depan.
Yang jelas, rekam jejak panjang mereka telah memberi warna tersendiri bagi NU dan politik Indonesia, baik melalui kerja gagasan maupun jalur kekuasaan.
Di tengah badai sorotan, publik kini menunggu bagaimana kisah keluarga Staquf bergerak di babak selanjutnya.
Sumber: PojokSatu