WARTADEMOKRASI.COM – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan bahwa tantangan global yang dihadapi dunia saat ini tidak hanya berkaitan dengan geopolitik dan keamanan internasional.
Ia menyebut terdapat lima mega tren global lain yang sama mendesaknya untuk segera ditangani.
Hal itu disampaikan AHY dalam acara buka puasa bersama Partai Demokrat di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
“Di luar persoalan geopolitik dan keamanan internasional ini, dunia juga terus menghadapi tantangan-tantangan global lainnya yang sama seriusnya. Bahkan tidak bisa menunda besok, lusa, tahun berikutnya. Tantangan-tantangan itulah yang seharusnya menyatukan kita semua, bukan justru memecah belah. Paling tidak kita memetakan ada lima tren global, lima mega tren,” ujar AHY.
AHY menempatkan pemanasan global dan krisis iklim sebagai ancaman utama.
Ia menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sudah dirasakan saat ini.
Fenomena banjir saat musim hujan, kekeringan di musim kemarau, hingga cuaca ekstrem di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi contoh dampak nyata.
Ia juga menyinggung kemunculan siklon tropis yang kini dapat terjadi di wilayah sekitar ekuator.
“Dan ini tentunya adalah bentuk tanggung jawab kita untuk generasi penerus kita. Kita ingin anak cucu kita juga hidup dengan baik dan nyaman di bumi yang hanya ada satu ini,” jelasnya.
Mega tren kedua adalah pertumbuhan populasi dunia yang terus meningkat, sementara sumber daya alam (SDA) semakin terbatas.
Menurut AHY, kondisi ini berpotensi memicu kompetisi antarnegara apabila tidak dikelola dengan bijak.
“Dan sekali lagi, inilah mengapa Indonesia yang dikaruniai dengan begitu besar kekayaan alam, juga tidak boleh merasa itu akan hadir dengan sendirinya. Kita harus mengikhtiarkan agar sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan benar-benar bisa didistribusikan secara berkeadilan,” tegasnya.
AHY juga menyoroti laju urbanisasi yang kian pesat. Ia menyebut sekitar 70 persen populasi dunia, termasuk Indonesia, diproyeksikan akan tinggal di kawasan perkotaan.
Namun, menurut dia, persoalan urbanisasi bukan hanya soal ketersediaan lahan atau tata ruang, melainkan juga kesiapan infrastruktur dan daya dukung kota.
“Kita ingin desa dan kota semakin maju. Kita ingin masyarakat tidak ada yang menjadi marjinal di lingkungannya sendiri. Dan itulah pentingnya pembangunan yang inklusif dan berkeadilan tadi,” ungkapnya.
Perkembangan artificial intelligence (AI) dan robotika menjadi tren keempat yang disoroti AHY.
Ia menyebut kemajuan teknologi ini sebagai persimpangan penting bagi bangsa-bangsa di dunia.
“Indonesia tidak akan menjadi pecundang dan penonton, karena kita ingin ini semua bisa menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi, pengungkit produktivitas, dan membuka lapangan pekerjaan baru,” kata dia.
Terakhir, AHY menyinggung widening gap atau kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin melebar di berbagai negara.
Disparitas antarwilayah serta kemiskinan ekstrem, menurutnya, harus dihadapi dengan kebijakan yang tepat dan berkeadilan.
Ia menekankan bahwa lima mega tren tersebut memerlukan respons bersama agar tidak menjadi sumber instabilitas di masa depan.
Sumber: Inilah