Debat Sengit Bitcoin vs Emas, Strategi Investasi Bergantung Ekonomi AS

WARTADEMOKRASI.COM – Perdebatan antara Bitcoin dan emas kembali menguat dalam beberapa bulan terakhir, seiring investor meninjau ulang risiko inflasi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Namun menurut seorang analis pasar, perbedaan pilihan investasi ini kini bukan sekadar soal lindung nilai portofolio. Lebih dari itu, perdebatan tersebut mencerminkan taruhan terhadap masa depan ekonomi AS.

Kepala Strategi Pasar di Wellington-Altus, James E. Thorne, memandang Bitcoin dan emas sebagai dua simbol berbeda tentang arah Amerika ke depan.

“Sebagai catatan, Bitcoin adalah taruhan atas kesuksesan Trump. Emas adalah taruhan atas kegagalan Amerika,” tulis Thorne dalam unggahannya dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (19/2/2026).

Ia menilai, emas kini bukan hanya aset pelindung dari inflasi atau volatilitas pasar, melainkan telah menjadi semacam “vonis” atas ketidakpercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi.

Menurut Thorne, meningkatnya minat terhadap emas mencerminkan keraguan terhadap “revolusi ekonomi Trump” dan kemampuan pemerintah mereformasi ekonomi yang dibebani utang besar.

Investor yang beralih ke emas, kata dia, pada dasarnya bertaruh bahwa Amerika Serikat akan terus berada di jalur ekspansi moneter, penumpukan utang, dan pelemahan nilai mata uang.

Emas vs Bitcoin, Dua Pandangan Masa Depan Amerika

Thorne menyebut, para investor lama seolah hanya melihat satu jalan keluar dari tingginya utang, yakni dengan mencetak uang, melemahkan nilai mata uang, dan berharap krisis tidak terjadi.

“Ini adalah pengakuan bahwa mereka hanya melihat satu jalan keluar: mencetak uang, melemahkan nilai, dan berharap semuanya baik-baik saja,” ujarnya.

Sebaliknya, ia menilai Presiden Donald Trump, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, serta mantan pejabat The Fed Kevin Warsh menawarkan jalur berbeda.

Menurut Thorne, jalur tersebut mencakup reformasi bank sentral, penghentian subsidi terhadap dana menganggur, serta mendorong modal kembali ke sektor produktif.

Di sisi lain, ia memposisikan Bitcoin sebagai “bendera spekulatif kesuksesan”.

Bitcoin dipandang sebagai taruhan digital bahwa kejelasan regulasi dan perubahan kebijakan dapat menjadikan AS pusat industri kripto global.

Dalam pandangan ini, emas mencerminkan keraguan bahwa Amerika mampu keluar dari tekanan fiskal melalui pertumbuhan ekonomi.

Sementara Bitcoin melambangkan keyakinan bahwa reformasi dapat mengurangi beban utang secara nyata.

“Jika program Trump berhasil, Wall Street harus kembali pada tujuannya: mendukung sektor produktif, bukan hanya pemegang obligasi,” tulis Thorne.

Ia bahkan memperingatkan bahwa investor yang berbondong-bondong membeli emas bisa menghadapi “perhitungan brutal” jika Amerika justru berhasil bangkit.

Narasi Aset Aman Bitcoin Mulai Dipertanyakan

Pernyataan Thorne muncul di tengah lonjakan harga emas akibat ketidakpastian ekonomi global. Sebaliknya, Bitcoin justru mengalami penurunan tajam dalam beberapa periode terakhir.

Kondisi ini kembali memicu perdebatan soal peran Bitcoin sebagai aset “safe haven” atau tempat berlindung saat krisis.

Trader kripto Ran Neuner mengaku mulai meragukan tesis utama Bitcoin.

“Untuk pertama kalinya dalam 12 tahun, saya mempertanyakan tesis Bitcoin,” katanya.

“Kami berjuang mendapatkan ETF, akses institusi, dan masuk ke sistem. Sekarang semuanya sudah tercapai. Tidak ada lagi yang diperjuangkan.”

Neuner menilai, periode yang diwarnai perang tarif, ketegangan mata uang, dan ketidakstabilan fiskal seharusnya menjadi ujian nyata bagi Bitcoin.

Namun, pada momen tersebut, investor justru lebih memilih emas.

Dengan telah disetujuinya ETF dan terbukanya akses institusional, hambatan struktural terhadap Bitcoin kini hampir tidak ada.

Artinya, lemahnya kinerja saat krisis tak lagi bisa dijelaskan oleh keterbatasan akses.

Ia juga menyoroti melemahnya minat investor ritel dan rendahnya momentum spekulatif dibanding siklus sebelumnya.

Meski tidak berarti Bitcoin kehilangan fondasinya, Neuner menilai kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah tesis investasi Bitcoin masih sekuat dulu?

“Ini bukan kehancuran, tapi jelas menjadi tanda tanya besar bagi masa depan narasi Bitcoin,” pungkasnya.

Kamu mungkin suka